Fair Trade, Pendekatan Alternatif Perdagangan Internasional (Bagian 1)

Fair Trade adalah sebuah terminologi yang mungkin jarang didengar, hanya saja cukup menarik untuk dibahas, diketahui dan dipahami bersama. Gerakan mengenai Fair Trade pertama kali muncul sekitar tahun 1940an, ketika Ten Thousand Villages, sebuah Organisasi Non Pemerintah (Ornop) dengan Mennonite Central Committee dan SERRV International mengembangkan mata rantai perdagangan untuk negara yang sedang berkembang.

Ada berbagai definisi dari berbagai kalangan atas terminologi ini. Menurut FINE, asosiasi dari 4 organisasi Fair Trade internasional (Fairtrade Labelling Organization, World Fair Trade Organization, Network of European Worldshops & European Fair Trade Association) yang terbentuk tahun 1998, Fair Trade adalah kemitraan dalam aktivitas perdagangan yang dengan dialog, transparansi dan rasa hormat bertujuan untuk melindungi produsen dan pekerjanya terutama negara di dunia ketiga untuk mencapai pembangunan yang berkesinambungan.

Sementara itu terminologi “Fairtrade” digunakan untuk menjelaskan sistem sertifikasi dan pelabelan yang diatur oleh Fairtrade Labelling Organization (FLO), seringkali disebut Fairtrade International, agar konsumen bisa mengindentifikasi produk/barang yang memenuhi standar ini. Artinya, produsen atau pemasok memperoleh pendapatan dari harga beli yang layak untuk mendukung produktivitas yang terus menerus. Masing – masing produk memiliki harga minimum yang harus dibayarkan oleh pembeli. Apabila harga pasar lebih tinggi daripada harga tersebut, maka pembeli harus membayar produk/barang dengan harga pasar.

Mereka juga mendapatkan “penerimaan tambahan”, dikenal sebagai Fairtrade Premium, untuk pengembangan sosial, lingkungan dan ekonominya. FLO sendiri adalah organisasi nirlaba yang bertanggung jawab atas arahan dan eksekusi, menetapkan standar dan mendukung pemasok dalam aktivitas perdagangan jenis ini.

Ada 2 standar Fairtrade yang berlaku yaitu untuk pemasok dan para pekerjanya. Tujuannya tidak lain untuk melindungi keduanya agar dapat melakukan aktivitas produksi dan bekerja serta memperoleh pendapatan dan kompensasi yang adil dan layak.  Saat ini ada ribuan produk yang memiliki sertifikasi Fairtrade yang terbagi menjadi 2 kategori yaitu makanan/minuman (teh, kopi, coklat, madu, buah, kacang, gula, beras) dan non makanan/minuman (tanaman, bunga, kapas dan lainnya) dengan mata rantai meliputi produsen, pemasok, importir, peritel dan organisasi standarisasi produk.

Beberapa standarisasi diberikan oleh beberapa institusi terkemuka yaitu UK Fairtrade Foundation, Max Havelaar di benua Eropa, Fair Trade Federation di Amerika Utara, Transfair di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan oleh produsen penerima penghargaan ini sudah sesuai dengan standar Fairtrade.

Perusahaan mana saja yang menjalankan fair trade? Apa saja keuntungan dari sistem ini? Akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.

Sumber Referensi:

  1. The Fair Trade Revolution by John Bowes (Editor), Pluto Press, New York, USA, 2011.
  2. http://www.wfto.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2&Itemid=14
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Fair_trade
  4. http://en.wikipedia.org/wiki/Community_Trade_Mark
  5. http://www.thebodyshop-usa.com/beauty/community-trade
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s