Menyimak Masa Depan Karir Terkait Media Sosial


ilustrasi (flickr/cc/paul stevenson)

Jakarta – Senior Manager, Social Media; Manager, Social Media & Marketing; Assistant Marketing Manager, Social Media; Team Lead, Social Media; Coordinator, Social Media; Social Media Specialist; Social Media Editor; Social Media Strategist; Social Media Consultant; Social Media API Programmer; Social Media Intern; Director of Social Media Marketing; Social Media Director

Daftar di atas adalah beberapa jabatan pekerjaan yang sedang dibutuhkan dan tercantum pada salah satu situs lowongan kerja dan karir ternama bagi para pekerja di bidang jejaring sosial, socialjobsonline.com.

Social Media Director adalah jabatan eksekutif terbaru yang merupakan bagian dari manajemen puncak perusahaan (C-level) dan mulai dikenal awal tahun lalu.

Seringkali dikenal sebagai Chief Social Media Officer (CSMO), mereka bertanggung jawab penuh terhadap content perusahaan di jejaring sosial termasuk mengawasi, mengembangkan kebijakan jejaring sosial bagi seluruh karyawan perusahaan serta mengembangkan infrastruktur jejaring sosial itu sendiri.

Philippe Borremans dan Rachel Sterne merupakan dua Chief Social Media Officer pertama di dunia. Borremans bekerja untuk Van Marcke Group, sebuah holding company bermarkas di Belgia dan bergerak di bidang konsultasi dan advokasi hukum. Sementara Rachel Sterne bekerja sebagai Chief Digital Officer kota New York, Amerika Serikat.

Statistik Pengguna Jejaring Sosial di Dunia

Lebih dari separuh pengguna internet di dunia sudah bergabung dengan salah satu jejaring sosial yang ada. Secara agregatif, satu pengguna memiliki 1.6 akun dan 39% diantaranya memiliki dua atau lebih akun. Hampir separuh pemilik akun tersebut mengakses akunnya setiap hari.

Negara sedang berkembang yaitu Filipina, Hungaria, Polandia, Brasil, Meksiko dan Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan pengguna jejaring sosial tertinggi. Hasil riset yang dirilis oleh Universal McCann sudah diduga oleh banyak pihak baik pengguna maupun pengamat jejaring sosial.

Peran Profesional Jejaring Sosial bagi Perusahaan

Peran jejaring sosial bagi perusahaan sudah tidak diragukan lagi. Pada artikel yang ditulis sebelumnya untuk media yang sama (“Kala Jejaring Sosial Rasuki Jiwa Perusahaan”) sudah dibahas mengenai perannya bagi perusahaan.

Hubungan antara jejaring sosial dengan aktivitas pemasaran perusahaan begitu dekat dan erat terutama dengan pemasaran melalui internet sehingga peran jejaring sosial lebih banyak “bermain” di ranah pemasaran ketimbang aktivitas fungsional lainnya di perusahaan.

Jejaring sosial tak pelak lagi sudah menjadi media (internet) yang sangat efektif untuk memperoleh pelanggan/konsumen baru, selain untuk mempertahankan pelanggan/konsumen yang sudah ada.

Semuanya bisa dicapai dengan memperkerjakan para profesional jejaring sosial yang mumpuni. Sumber daya manusia yang handal bisa diperoleh secara internal yaitu karyawan perusahaan itu sendiri maupun pihak ketiga yaitu perusahaan yang memang menyediakan layanan sumber daya manusia untuk mengelola akun perusahaan kliennya.

Burger King, Nike, National Geographic, Marriott Hotel, Starbucks dan Ford merupakan merk yang sudah memetik dan merasakan manfaat besar dari jejaring sosial dan seringkali dijadikan contoh kisah sukses penggunaan jejaring sosial untuk perusahaan.

Apa yang Dibutuhkan Dari Para Profesional?

Ada beberapa elemen kompetensi yang sebaiknya dimiliki oleh para profesional jejaring sosial.

  1. Mampu bekerjasama dengan semua departemen dan tim yang ada termasuk manajemen puncak perusahaan. Memahami seutuhnya latar belakang, nilai, budaya, struktur organisasi, cara kerja, visi, misi, tujuan dan target baik jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan.
  2. Memiliki pemahaman komprehensif atas pemasaran online (online marketing) dan pemasaran jejaring sosial (social media marketing) dengan seluruh media, alat maupun tekniknya seperti Web 2.0, Search Engine Optimization (SEO), Web Analytics, situs web, platform, proses dan teknologi blog (Posterous, Tumblr, Blogspot), Facebook, Twitter, Linkedin dan lainnya.
  3. Memiliki kemampuan mengoptimalisasi jejaring sosial untuk mencapai tujuan utama perusahaan. Begitu juga dengan alat pengukurannya (measurement) seperti Awareness,Radian6, Sprout Social, HootSuite, Seesmic, Tweetdeck,Klout dan Peer Index.
  4. Memiliki kemampuan mengintegrasikan fungsi Public Relations (PR) dan fungsi pemasaran jejaring sosial. Ini diperlukan untuk menghindari overlapping fungsional yang akan berujung kepada misleading dan membingungkan publik.
  5. Memiliki kemampuan memilih platform jejaring sosial yang paling sesuai bagi perusahaan, termasuk strategi penggunaan platform dan kolaborasi antar platform yang ada.
  6. Memiliki kemampuan berinteraksi dengan publik menggunakan platform yang sudah dipilih. Selain itu kemampuan untuk mendengarkan dan merespons feedback dari pelanggan, pengguna jasa, pembeli, mitra dan pihak lainnya dan kemampuan integrasi dengan manajemen hubungan pelanggan (CRM), jika ada juga tidak kalah penting. “Jejaring sosial bukanlah tentang media semata. Jejaring sosial adalah hubungan dan oleh karena itu, maka perasaan, orisinalitas dan pekerjaan sangatlah dibutuhkan” tandas Brian Anthony Hernandez, salah satu jurnalis Business News Daily.
  7. Memiliki kemampuan mendefinisikan, mengembangkan kebijakan dan prosedur serta panduan jejaring sosial bagi seluruh karyawan perusahaan. Pernyataan Steve Rubel, Senior Vice President Edelman Digital, bahwa jejaring sosial bukanlah 100% tanggung jawab satu orang saja melainkan 1% tanggung jawab yang ditanggung oleh 100 orang menjadi relevan.
  8. Memiliki kemampuan mengembangkan, mengawasi dan memimpin seluruh karyawan dan departemen untuk mengembangkan ‘social voice’ yaitu pernyataan perusahaan kepada pihak publik dan bersifat kontekstual dan obyektif.
  9. Kemampuan membuat dan memilih jenis content yang sesuai (tautan, teks, gambar, audio, dan video) disesuaikan dengan pesan, tujuan komunikasi dan interaksi yang ingin disampaikan serta target komunikan yang ingin dijangkau.
  10. Memiliki pengetahuan mendasar mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi.

Masa Depan Profesi ini

Pertumbuhan tingkat pengguna internet di berbagai negara terutama negara berkembang, pertumbuhan pengguna jejaring sosial, penambahan jumlah jejaring sosial, mobilitas dan produktivitas penduduk dunia yang semakin tinggi, biaya penggunaan internet yang makin terjangkau serta makin meningkatnya kesadaran perusahaan swasta maupun publik atas manfaatnya jejaring sosial merupakan beberapa faktor yang menjadikan masa depan profesi ini menjadi cerah dan menjanjikan.

Perusahaan yang menawarkan layanan pengelolaan akun sedang menjamur. Diperkirakan lembaga yang menawarkan jasa pendidikan dan pelatihan jejaring sosial juga akan meningkat.

Birmingham City University di Inggris telah menawarkan program pasca sarjana berdurasi satu tahun di bidang Jejaring Sosial mulai dua tahun lalu.

Di Amerika Serikat, Rutgers University menawarkan program jejaring sosial, pemasaran mobile dan web analytics dalam program Mini-MBAnya.

Ketika perusahaan membutuhkan profesional jejaring sosial atau saat institusi kita bernaung mengimplementasikan jejaring sosial secara komprehensif, sudah siapkah kita?

Sebagaimana dimuat di DetikINET: http://inet.detik.com/read/2011/08/18/170149/1706211/398/menyimak-masa-depan-karir-terkait-media-sosial

Kala Jejaring Sosial Rasuki Jiwa Perusahaan

Jakarta – Manajemen puncak menekankan perlunya cetak biru dan rencana jejaring sosial perusahaan. Public Relations ingin menggunakan Twitter. Departemen pemasaran lebih menyukai Facebook dan ingin membuat fans page. Manajer Sumber Daya Manusia menyukai LinkedIn. Penyelia customer service menginginkan adanya blog. Sementara bagian Teknologi Informasi mengagumi Google+. Inilah tanda jejaring sosial sudah ‘merasuki’ jiwa dan sanubari perusahaan.

Peran dan Manfaat

Jejaring sosial sebagai bentuk Customer Relationship Management (CRM) yang paling mumpuni dengan dukungan teknologi informasi adalah fakta yang tidak diragukan lagi. Dengan memanfaatkan jejaring ini, perusahaan dapat berkomunikasi lebih dinamis dan interaktif dengan publik termasuk parastakeholder (pembeli, pelanggan, pemasok dan mitranya) serta lebih cepat dalam memperoleh feedback(kritik, saran, gagasan, keluhan).

Multiplier effect‘ yang diperoleh jelas lebih dahsyat. Promosi program baru perusahaan dapat menjangkau lebih banyak konsumen, calon konsumen maupun jenis audiens lainnya. Riset pemasaran juga bisa memanfaatkan media ini di mana hasil riset diperoleh lebih cepat dan bisa digunakan langsung untuk merancang strategi penjualan perusahaan. Jangkauan dan ruang lingkup perusahaan meluas.

Informasi yang disampaikan lewat media ini memiliki jangkauan global pengelolaan akun yang jauh lebih mudah dibandingkan situs web. Dan lagi, semua jejaring sosial dapat dimanfaatkan secara gratis, kecuali untuk beberapa fitur tambahan.

Dengan melakukan aktivitas browsing pada situs YouTube, Facebook, Twitter atau jejaring sosial lainnya, kita dapat mengetahui feedback dan persepsi publik yang ‘lebih jujur’ dan ‘lebih spontan’ terhadap perusahaan ataupun merek yang kita miliki. Apa yang disukai, tidak disukai, menarik perhatian, lucu, tidak berkenan dan lainnya. Selain itu informasi sejenis bisa diperoleh melalui common interest group, fans page serta Google Alert.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan media ini adalah memastikan konsistensi semua pesan yang disampaikan melalui berbagai platform yang ada. Ini diperlukan untuk menjaga citra perusahaan. Mudah dilaksanakan karena integrasi antar platform jejaring sosial sudah tersedia.

Walaupun suasana komunikasi bersifat informal, perlu diingat bahwa akun yang dibuat mewakili perusahaan sehingga profesionalisme harus tetap dijaga. Dengan komunikasi yang lebih intensif dan ekstensif, user engagement akan menjadi lebih lama, sehingga kedekatan emosional dan sense of belonging mereka juga meningkat.

Perusahaan wajib memberikan respons dan jawaban terbaik agar ‘mind share’ maupun ‘heart share‘ public tetap terjaga. Jenis informasi yang disampaikan juga harus dibedakan berdasarkan jenis komunikan, apakah itu pembeli, pengguna, konsumen, mitra, pemasok dan lainnya.

Penggunaan Jejaring Sosial

Mengutip riset yang dilakukan Burlingame’s Jobvite Inc., 83% perusahaan akan menggunakan jejaring sosial untuk proses rekrutmen tahun depan, 78% menggunakan Linkedin, 55% Facebook dan Twitter di tempat ketiga dengan 45%.

Menurut riset Forrester Research, prediksi penjualan ritel secara online di dunia 3 tahun ke depan akan bertambah 15% setiap tahunnya dimana tahun 2013 diperkirakan akan mencapai USD 410 miliar. Dengan jumlah pasar sebesar itu, maka akan banyak sekali penjual, pembeli serta transaksi online yang terjadi.

Pada tahun yang sama, 33% pembeli online akan mengadakan ‘riset skala kecil’ terlebih dahulu untuk menemukan harga yang paling kompetitif dan mereka juga akan menjadi pembeli yang lebih rasional ketimbang impulsif. 54% pembelian offline dipengaruhi oleh riset online dan terutama jejaring sosial sehingga investasi perusahaan atas platform jejaring sosial tidak pelak lagi merupakan sebuah keharusan.

Statistik Facebook, Twitter dan Linkedin

Total anggota Facebook di seluruh dunia saat ini sudah mencapai 730 juta di lebih dari 213 negara. Amerika Serikat memiliki pengguna terbanyak dengan 153 juta, disusul Indonesia 39 juta, India 33 juta, Inggris 30 juta dan Turki 29 juta sebagaimana data dari Socialbakers.com.

Jakarta merupakan kota dengan pengguna Facebook terbanyak di seluruh dunia dengan 17.5 juta, diikuti Istanbul (9.6 juta), Mexico City (9.4 juta) dan London (7.7 juta).

Dengan pertumbuhan jumlah pengguna sebesar 20% setiap bulannya, penetrasi dan perkembangan internet di Brasil dan India, dua negara di dunia dengan populasi penduduk yang padat dan pertumbuhan pesat pengguna Facebook di sana, diperkirakan akhir tahun ini jumlah pengguna akan mencapai 800 juta anggota.

Untuk brand, peringkat 5 besar didominasi oleh merek asal Amerika Serikat: Coca-Cola dengan 33 juta fans, Disney 28 juta, Starbucks 24 juta, Oreo 23 juta dan Red Bull 22 juta.

Di Indonesia sendiri, Surfer Girl berada di peringkat teratas dengan 1.8 juta fans. Chocolatos berada di peringkat kedua dengan 1.7 juta fans, diikuti BlackBerry Indonesia (1.3 juta), Yamaha Motor Indonesia (1.2 juta) dan Starbucks Indonesia (616 ribu).

Riset dari Exact Target menyebutkan bahwa, 69% pengguna Facebook merupakan fans dari satu atau lebih perusahaan (Company Pages) sementara 92% pemasar sudah menggunakan Facebook untuk menjalankan aktivitas penjualan dan pemasarannya. 75% di antaranya bakal lebih sering menggunakannya untuk kedua aktivitas tersebut di masa yang akan datang.

Dari 300 juta pengguna Twitter di seluruh dunia, Indonesia kembali berada di peringkat pertama dengan jumlah pengguna terbanyak di antara negara Asia lainnya dengan 7 juta pengguna, disusul Jepang (3.5 juta) dan India (2.3 juta).

Secara global Indonesia berada di peringkat enam setelah Amerika Serikat, Inggris, Brasil, Kanada dan Australia. Ada 1.5 juta tweet dikirimkan setiap harinya oleh pengguna di Indonesia dengan jumlah paling banyak dilakukan pada pukul 6 sore sampai dengan 10 malam. Total ada 200 juta tweet/post dikirimkan dan 500.000 akun Twitter baru yang dibuat setiap harinya.

Data tersebut sekedar memberikan gambaran aktivitas komunikasi pada situs web yang berada di posisi 9 sebagai situs yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Di kalangan korporasi, dari survei yang dilakukan terhadap 100 perusahaan teratas di daftar Fortune Global 500, 77% di antara mereka sudah mempunyai akun Twitter dengan 72% perusahaan berasal dari Amerika Serikat, 83% perusahaan Eropa dan 67% perusahaan di kawasan Asia Pasifik.

Setiap perusahaan rata – rata memiliki 5.8 akun Twitter dengan porsi posting berita dan informasi terbaru perusahaan sebesar 88%, pelayanan pelanggan 40%, tawaran/promo 28% dan informasi pekerjaan 10%. Dari jumlah followers, Whole Foods Market merupakan merk terpopuler (2 juta follower), disusul JetBlue Airways (1.7 juta), Threadless (1.62 juta), woot.com (1.61 juta) dan Starbucks Coffee (1.6 juta)

Sementara itu, situs jejaring professional terbesar di dunia yaitu Linkedin, yang mulai populer di kawasan Asia termasuk Indonesia, ‘dikuasai’ oleh Amerika Serikat dengan 51 juta pengguna, India dengan 11 juta, Inggris 7 juta, Brazil 5.3 juta dan Kanada dengan 4.3 juta dengan latar belakang pengguna berasal dari 190 lebih industri. Jejaring ini berkembang pesat di Brazil dengan pertumbuhan tiga digitnya, 428%, selama setahun diikuti oleh Mexico dan India.

Saat ini tercatat 1 juta guru bergabung dengan 20% pengguna berasal dari sektor jasa, 9% dari keuangan dan 8% dari teknologi. Mengutip situs mashable, ada sekitar 18 juta anggota berpatisipasi pada Linkedin grup dengan 1.2 juta post dan komentar per minggunya.

Sejak tahun lalu, hampir semua eksekutif puncak perusahaan di Fortune 500 memiliki akun Linkedin. Tercatat 73 perusahaan Fortune 100 menggunakan layanan Linkedin Hiring Solutions untuk proses rekrutmennya.

Perusahaan dapat memanfaatkan layanan direktori service provider untuk aktivitas promosi, bergabung maupun membuat grup untuk mendiskusikan topik tertentu, berpartipasi dalam Linkedin Q & A, company profile dan company buzz.

Kisah Sukses 

American Express dan HSBC adalah dua perusahaan di dunia yang menggunakan ‘teknologi jejaring sosial’ dengan cara yang inovatif dan berorientasi pada bisnis untuk memberdayakan mitra mereka agar mampu mengembangkan bisnis mereka secara mandiri. Keduanya bisa dijadikan contoh kesuksesan jejaring sosial untuk model bisnis Business-to-Business (B2B).

Amex mengembangkan forum terbuka dimana para mitranya bisa mengakses informasi dari berbagai topik inovasi, manajemen, gaya hidup sampai teknologi. Pada forum yang memiliki 2 juta anggota ini, mitra bisa saling mendiskusikan topik tertentu dan memanfaatkan direktori bisnis yang eksklusif untuk berjejaring sesama mitra.

Di sisi lain, HSBC mengembangkan Business Network dimana para mitra disediakan aplikasi dan blog serta jejaring sosial yang dikembangkan sendiri untuk memfasilitasi pertukaran informasi, saling berbagi serta berjejaring.

Secara makro, sebagaimana dilaporkan oleh situs web thenextweb.com, jejaring sosial lebih banyak digunakan oleh model bisnis B2B dibandingkan B2C. Mengapa? Karena pengguna jejaring sosial terbanyak dari kalangan korporasi adalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang notabene menjalankan usahanya dengan model bisnis B2B.

Berbeda dengan usaha besar (big enterprise) yang fokus pada produk maupun layanan dengan model bisnis B2C. UKM akan lebih ‘lincah’, ‘fleksibel’ dan responsif dalam penggunaannya.

Untuk medianya sendiri, Facebook dan Twitter lebih cocok digunakan oleh perusahaan B2C dimana kisah sukses OldSpice dan Lionsgate Film menjadi menarik untuk disimak sementara Linkedin lebih banyak digunakan oleh perusahan B2B.

Terlepas dari model bisnis perusahaan, apakah B2B atau B2C, setiap perusahaan sudah semestinya mengetahui platform jejaring sosial terbaik untuk digunakan oleh mereka dengan mempertimbangkan beberapa faktor lain seperti merk, pemasok, pembeli, konsumen dan terutama pelanggan.

Bagi yang belum menggunakan, bisa mulai merencanakan cetak biru jejaring sosial termasuk menentukan SDM dan departemen ataupun SubKontraktor yang akan menangani serta membuat panduan jejaring sosial bagi para karyawannya.

Sebagaimana diterbitkan di DetikINET: http://inet.detik.com/read/2011/08/11/140455/1701495/398/kala-jejaring-sosial-rasuki-jiwa-perusahaan

Menanti Google+ untuk Bisnis

Jakarta – Mega proyek Google Plus (G+), selain ditujukan untuk para pengguna individual dan umum, direncanakan akan digunakan oleh kalangan pebisnis. Sementara fitur G+ untuk bisnis belum ada, terdapat beberapa cara kreatif bagi bisnis untuk memanfaatkan G+.

Pada suatu kesempatan, Christian Oestlien, Google Plus Product Manager, mengatakan bahwa walaupun fokus utama Google saat ini adalah mengoptimalkan user experience, namun mereka juga memiliki beberapa tim dengan pengembang terbaik yang sedang mengembangkan Google+ versi bisnis.

Bagi pebisnis atau perusahaan yang berminat untuk mencobanya, bisa melakukan pendaftaran di Google+ Entity Profile Application untuk memperoleh undangannya. Cukup mengisikan informasi seakurat dan selengkap mungkin.

Diperkirakan versi bisnis juga akan diluncurkan pertama kali dengan sistem undangan (invitation only) serta dalam masa percobaan terbatas (Field Trial) sebagaimana Google+ untuk pengguna individual dan umum. Google akan melakukan verifikasi terhadapnya dan apabila menemukan bahwa profil tersebut palsu, maka keanggotaan akan ditangguhkan dan terancam dicabut.

Saat ini penggunaan jejaring sosial untuk menunjang aktivitas perusahaan memang semakin meningkat. Dari survei terhadap 100 perusahaan yang dilakukan majalah Fortune (Fortune 100), prosentase perusahaan yang menggunakan jejaring sosial yaitu Twitter, Facebook, YouTube dan Blog) adalah 65%, 54%, 50% dan 33%. Banyaknya perusahaan di seluruh dunia yang menggunakan keempat jejaring sosial tersebut sekaligus adalah 20%, dengan 28% di Amerika Serikat, 15% di Eropa, dan 25% di Asia.

ilustrasi

Versi bisnis ini diperkirakan memiliki berbagai fitur Sales dan Marketing unggulan Google yaitu Rich Analytics dan Adwords serta terintegrasi dengan aplikasi maupun layanan Google lainnya. Dengan Rich Analytics diharapkan perusahaan dapat menganalisa data dan informasi situs webnya (home page, halaman web, pengunjung, waktu berkunjung, dan lainnya) untuk membuat keputusan strategis sehingga optimalisasi situs web dapat dicapai.

Tingkat penjualan, pendapatan dan customer diharapkan akan meningkat. Sementara itu, Adwords merupakan jenis iklan yang akan ditampilkan di sebelah kanan hasil pencarian saat kita menggunakan search engine Google untuk mencari sesuatu menggunakan kata kunci tertentu.

Besar harapan bahwa Analytics di versi bisnis akan lebih lengkap dengan fitur administrasi untuk mengelola semua content yang lebih bersahabat dan mudah digunakan, fitur pembuatan dan penambahan halaman web yang lebih banyak dan variatif.

Sebenarnya Google telah memperlihatkan tampilan Google versi bisnis beberapa waktu lalu. Uniknya, yang ditampilkan pada home page versi bisnis, tidak hanya informasi mengenai fans saja, namun juga informasi para karyawan dan manajemen perusahaan. Alamat perusahaan dapat ditampilkan melalui Google Maps dan Places.

Menggunakan Google Offers, perusahaan bisa memberikan penawaran atau program khusus kepada para konsumen, pelanggan, mitra maupun rekanan bisnisnya lainnya. Bagi para plusser, fitur Sparks dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perusahaan tertentu.

Beberapa fitur lain yang kemungkinan besar akan tersedia pada versi bisnis adalah Google Meeting, Google Screencast dan Google Whiteboard. Dengan Google Meeting, perusahaan dapat merencanakan, mengadakan dan mendokumentasikan pembicaraan, teks, maupun video selama meeting atau konferensi dilaksanakan.

Undangan meeting dapat dibuat menggunakan Google Calendar, GMail dan juga Google Chat. Tampilan layar saat meeting dapat disimpan dengan Google Screencast untuk keperluan meeting selanjutnya serta bisa diperlihatkan kepada peserta yang tidak dapat hadir.

Untuk keperluan presentasi, membuat Minutes of Meeting maupun berbagi dokumen penunjang lainnya selama meeting, bisa menggunakan Google Whiteboard dengan Google Docs. Peserta dapat memberikan catatan pada whiteboard virtual dan catatan bisa dikirimkan kepada peserta lain melalui email maupun Google+.

Bagi yang menantikan versi bisnis, untuk sementara waktu bisa memanfaatkan akun Google+ yang dimilikinya untuk keperluan perusahaan yang dimilikinya. Beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan baru (startup) skala mikro dan kecil atau organisasi sederhana akan dibahas di bawah ini. Kreativitas adalah kata kuncinya.

Aktivitas Komunikasi

Berbagai content komunikasi baik teks, suara dan video bisa diakomodasi. Bentuknya bisa berupa content untuk konsumsi publik dan pesan pribadi (private message) dengan stream serta email, chat dengan Google Chat serta video conferencing dengan fitur Hangouts.

Dengan adanya fitur Circle, kita bisa mengelompokkan plusser menjadi satu atau beberapa Circle. Seorang plusser bisa berada di beberapa Circle dan dalam satu Circle bisa mengakomodasi beberapa plusser. Jumlah maksimal plusser yang bisa kita tempatkan dalam Circle dan jumlah maksimal plusser dalam satu Circle adalah sama yaitu 5000.

Sebagai contoh implementasinya, kita dapat membuat beberapa Circle untuk departemen yang ada dan membuat beberapa circle untuk jabatan yang ada (staff, officer, supervisor, manager dan lainnya). Karena saat ini Circle masih bersifat privat, dimana setiap plusser hanya bisa melihat Circlenya sendiri, maka Circle plusser yang satu dengan Circle plusser yang lain haruslah sama.

Hangouts adalah fitur yang dapat digunakan secara gratis untuk melakukan video conferencing dengan rekanan bisnis (distributor, dealer, peritel, pemasok, prinsipal), kantor pusat, kantor cabang, maupun customer serta pihak lainnya dan tersedia tanpa moderasi serta gratis. Jumlah peserta maksimal adalah 10 plusser.

Jika ada plusser yang merasa terganggu, mereka bisa mengaktifkan fitur mute. Video akan secara otomatis berpindah ke siapapun plusser yang sedang berbicara pada konferensi tersebut. Selain itu komunikasi via chat juga dimungkinkan selama konferensi berlangsung.

Aktivitas Proyek

Jika perusahaan sedang mengerjakan proyek dengan aktivitas utama, aktivitas pendukung, daftar pekerjaan, siapa yang akan mengerjakan termasuk penanggung jawabnya dapat didokumentasikan menggunakan Circle.

Circle akan menjadi “tempat kerja virtual” dengan fitur yang disebutkan di atas sebagai media komunikasinya. Berbagai pihak yang mengerjakan dapat memberikan komentar dan share dengan jumlah maksimal 500 komentar dan 1000 share untuk setiap postnya.

Aktivitas Pekerjaan

Aktivitas pekerjaan dalam perusahaan dapat didelegasikan ke departemen maupun individu tertentu. Caranya dengan menginformasikan aktivitas pekerjaan dalam bentuk stream ke departemen tertentu menggunakan Circle dan juga nama individu yang bersangkutan, bila diperlukan.

Screenshot

Bagi yang menerima penugasan dan pendelegasian tersebut bisa memberikan notifikasi bahwa informasi pekerjaan sudah diterima, dibaca dan akan dikerjakan. Status pekerjaan dapat diinformasikan secara berkala kepada pemberi pekerjaan, rekan serta pihak lain menggunakan fitur komentar dan share.

Aplikasi Perkantoran

Produk aplikasi perkantoran Google yaitu Google Docs, dapat digunakan untuk membuat berbagai dokumen, presentasi maupun kertas kerja serta dibagikan kepada rekan kerja lainnya. Walaupun belum terintegrasi sepenuhnya dengan Google+, aplikasi ini bisa dimanfaatkan secara optimal.

Screenshot

Sambil menunggu peluncuran Google+ versi bisnis, beberapa fitur di atas bisa dimanfaatkan terlebih dahulu. Selamat mencoba!

Sebagaimana diterbitkan oleh DetikINET: http://inet.detik.com/read/2011/08/02/173039/1695027/398/menanti-google–untuk-bisnis