Surga, Kumis dan Fenomena Jejaring Sosial Berbasis Interest


Ilustrasi (gigaom)

Jakarta – Ada 15 juta pengguna di seluruh dunia dengan 250 juta foto yang sudah diunggah sampai saat ini. 1,5 juta foto diunggah setiap harinya atau 15 foto per 10 detik dimana hanya 20 persen yang ditampilkan sebagaimana adanya. Semua terjadi dalam waktu 18 bulan.

Ya, Anda benar! Inilah Instagram, jejaring sosial berbasis foto yang diluncurkan Oktober dua tahun silam dan digawangi oleh 10 pegawai (saja).

Hampir serupa dengan Instagram, Pinterest — yang ditengarai sebagai salah satu start-up ‘terpanas’ tahun lalu — juga mencatat rekor mengagumkan.

12 juta pengunjung unik setiap bulannya dengan 9 juta di antaranya berasal dari Facebook, 11 juta pengguna terdaftar, jejaring sosial dengan 16 staf ini berhasil memperoleh user tractiondan user engagement lebih cepat dan lebih aktif dibandingkan jejaring sosial mainstream.

Basis pertemanan menjadi fokus jejaring sosial selama lebih dari satu dasawarsa. Friendster, Multiply, dan Facebook seakan menjadi ‘landmark‘ yang membuat kita mendaftarkan diri dan menambahkan orang yang sudah kita kenal sebelumnya (teman, sahabat, rekan kerja, sanak saudara, mitra bisnis), yang baru kita kenal ataupun yang belum kita kenal sama sekali.

LinkedIn lebih tepat dikategorikan sebagai jejaring profesional (professional network) ketimbang sebagai jejaring sosial. Sementara Twitter diciptakan oleh Jack Dorsey dan Biz Stone sebagai jejaring sosial berbasis informasi (network of information) untuk membicarakan topik tertentu secara real-time yang ditandai dengan hashtag atau yang lebih dikenal sebagai tagar.

Dari sekitar 200 juta pengguna saat ini, yang konsisten menggunakannya sebagai media berbagi informasi diperkirakan sebesar 30 persen sementara sisanya memanfaatkannya untuk aktivitas ngobrol, menanganifeedback dari pelanggan, curhat serta berbagai aktivitas lainnya.

Mayoritas isi tweet yang ditulis oleh para tweeps adalah teks dan topik yang dibahas pun beraneka ragam. Bisa jadi karena jenuh dengan jejaring sosial yang sudah ada, para pengguna menginginkan adanya jejaring sosial yang berbeda, dengan pendekatan yang berbeda, lebih spesifik (tidak umum), maupun membahas topik yang sangat khusus (niche).

Trend pendekatan yang digunakan juga mulai berubah dari basis pertemanan menjadi basis content dan interest. Siapa yang memiliki content yang lebih menarik akan memiliki banyak follower dan sebaliknya.

Kategori menarik mungkin akan berbeda — beda bagi tiap pengguna. Atau pengguna akan cenderung mengikuti pengguna lain yang memiliki interest sejenis.

Kedua faktor ini tentunya mengabaikan public figure yang di media konvensional pun memiliki daya tarik tersendiri dan khusus untuk diikuti. Tanpa melakukan aktivitas apapun (following, menulis content) mereka sudah memiliki ratusan ribu bahkan jutaan follower.

Sedikit kilas balik, sebenarnya sudah cukup banyak jejaring sosial berbasis interest yang lahir. Mulai dari jejaring sosial bagi penggemar kerajinan, musik, pecinta satwa peliharaan sampai penggemar aktivitas berkebun, bahkan bagi yang ingin saling berbagi mimpi (pernahkah Anda mendengar tentang MatchADream?).

Yang sangat spesifik, sekadar menyebutkan beberapa contoh, adalah MyFreeImplants (berkaitan dengan operasi plastik), Line for Heaven (untuk yang ingin masuk surga. Siapa yang tidak?), Respectance (mengenang yang sudah berpulang), StachePassions (penggemar kumis dan janggut), VampireFreaks (penggemar gothic).

Mengapa mereka ‘tidak terlalu’ terdengar? Tanpa bermaksud memudahkan permasalahan, interest yang terlalu spesifik, terlalu ‘sempit’, merupakan salah satu faktor utama. Jumlah pengguna sedikit banyak menjadi terbatas.

Sampai dengan saat ini di antara jejaring sosial yang disebutkan pada paragraf sebelumnya, anggota terbanyak dimiliki oleh VampireFreaks dengan 3 juta pengguna.

Situs pertemanan raksasa Facebook, akan terus mendominasi ranah jejaring sosial. Walaupun pertumbuhannya cenderung melambat beberapa waktu terakhir, namun sebagai makhluk sosial kita tetap membutuhkan teman (‘no man is an island‘), 800 juta penggunanya akan terus bertambah.

Saat internet hadir untuk konsumsi publik, forum, mailing list dan chat room sudah digunakan untuk mengakomodasi hubungan pertemanan maupun interest tertentu. Jadi jejaring sosial yang ada sekarang bisa dikatakan sebagai media yang serupa tapi tidak sama. Serupa karena esensi keberadaannya sama (social relationship dan common interest), tidak sama karena setiap media memiliki karakteristik tersendiri.

Selamat menikmati gegap gempitanya jejaring sosial. Selamat datang era baru jejaring sosial berbasis interest.

Sebagaimana dimuat di DetikINET: http://inet.detik.com/read/2012/02/23/131358/1849875/398/surga-kumis-dan-fenomena-jejaring-sosial-berbasis-interest

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s