China Enjoys Home-Made Mobile Platforms

Asian countries prefer local-made technologies and devices, especially where non-Latin alphabets are prevalent, studies have found out. In China, there is a rising trend in the use of locally-developed smartphone and smartphone operating systems.

The Xiaomi MiOne is an example of a Chinese-developed smartphone.

The rise is slow, but the trend is showing that consumers are likely to use locally-developed smartphone OSes bundled with local online services, IDC reported in Made in China: Mobile Operating Systems.

One such example of a homegrown mobile OS is MIUI, an Android-based custom firmware launched late last year by Beijing-based mobile phone company Xiaomi Tech. MIUI powers Xiamo’s low budget smartphone, the Mi-ONE, sometimes also referred as MI-ONE Plus or the Xiaomi Phone. Despite the pre-installed OS, it also supports stock Android ROMs and other third party ROMs.

The integration of native OSs and internet services will form a competitive advantage over their Western or international counterparts. On the other hand, most of Independent Software Vendors (ISVs) see the OS as a platform to create additional revenue streams. People buy the mobile devices not only for the device itself and OS, but the suite of apps that a user can take advantage of for activities such as entertainment, productivity, education, socialization and utility.

The 17-page study tells us that with rich apps, and a robust, user-friendly OS, people will utilize their devices longer, which will likewise raise the data plan usage, to the benefit of the carrier. It will help increase adoption of smartphones in rural areas, which will soon render the feature phone obsolete. Developers can use this as an opportunity to create additional revenue streams, or increase their margins.

In the end, this can lead to Chinese users catching up with the latest trends in smartphone use. It was also IDC that said smartphones will surpass feature phones in sales by next year. By the end of this year, it spots only 8 million differences, with 144 million units out of 280 million devices in total.

The momentum of 3G technology implementation in the country has successfully embraced the smart phone shipment, with mobile data plans are getting higher and the Average Revenue per User (ARPU) continues to grow.

But IDC highlighted that the ecosystem is young. At this point, some of them might struggle soon and die. The prediction is that only few players will battle head-to-head with the western giants.

About Xiaomi, which is perceived as the role model, IDC analyst Ian Song told to The Register “IDC believes Xiaomi is on the right track with first creating a great user experience, then putting it on a desirable device, all of which will be instrumental in getting its users to MIUI-based service, thus enlarging its services based revenues, and creating sticky user experiences not unlike what Apple has done.”

As published in TechWireAsia:


Asia Still Faces Challenges in Digital Music Monetization

Monetizing music in both digital and physical formats in Asia has never been easy. Taiwanese mobile device manufacturer HTC agrees, which is why the company has not yet offered music services even with its own smartphone business and Dr. Dre  headphones in the market.

(Photo credit: Shutterstock)

HTC’s Head of Global Content Division Phil Chen explained few things in an interview at the Digital Matters 2012 conference, particularly focusing on why the company has not music services, even if they are heavily marketing the multimedia capabilities of their Beats by Dr. Dre Headphones.

Beats has dominated the mobile headphone market with a 53% share in 2012. The brand was founded by hip-hop artist Dr. Dre, with HTC as the majority shareholder, followed by Dr. Dre himself, Jimmy Iovine and Universal Music Group.

HTC has conducted studies that divided music junkies into two types of users. First includes people who have more time than money, mostly youngsters. This demographic would rather get pirated music rather than buy from legitimate sources. Second group includes those who have more money than time, and who have been music lovers in school (from high school through college).

Some of us might still remember that music piracy in the world’s largest continent has been a global concern since the 1990′s. At that time, pirated compact discs from Southeast Asia have flooded these markets, and have even been exported to South America at a total of 10 billion CDs per year.

China in itself is a concern. An April 2012 report from The United States Trade Representative (USTR) indicates that only 1% of music downloads in the country is legal. It’s quite hard to imagine the world most populous country with only a very small ratio of legal music downloads.

Other Asian countries are likewise challenging, in terms of marketing legitimate music in both CD and digital formats, such as South KoreaIndonesia,VietnamCambodiaPakistan and Thailand. The situation is getting a little better for the movie industry, though. Three major dotcommers there have agreed to buy TV and music rights for distribution.

To give you an illustration on how big the global (and digital) music market is: the market has experienced an 8% growth from last year,  which amounts to US$ 5.2 billion. Digital channels account for 32% of recording company revenues. Now, several markets see a majority of their revenues deriving from digital content, with 52% in the U.S., 53% in South Korea and 71% in China — which are the top countries in terms of revenue.

Even though music is ranked second after games in deriving industry revenue from the digital space, it has successfully hit 3.6 billion downloads globally as of end 2011, which is an increase of 17% from 2010, according to IPFI.

Observers have noted that HTC may be postponing its Video-On-Demand (VoD) services equipped planned for release with its Watch app due to these factors. However, Chen says the company is facing logistics and implementation delays. To date, the Watch app is only showing movie trailers.

Will people watch full-length movies on their mobile devices? Obviously, screen size is an issue that may limit enjoyment of a full-length movie. Tablet computers may be more appropriate for this application.

As published in TechWireAsia:

Menjaring Percakapan di Jejaring Sosial: Apa Perlunya?

Ilustrasi (BloggerPath)

Jakarta – Tak bisa dipungkiri, peran jejaring sosial bagi individu pada umumnya dan kalangan korporasi pada khususnya semakin penting. Bagi perusahaan, jejaring sosial digunakan untuk aktivitas promosi dan pemasaran produk yang dimiliki, mendekatkan diri kepada para calon pembeli, pembeli, pengguna serta konsumen atas brand (brand engagement), produk yang ditawarkan serta layanan yang diberikan.

Tujuannya beragam yaitu meningkatkan kepuasan konsumen, nilai brand itu sendiri serta penjualan sampai dengan memenangkan persaingan bisnis.

Selain menggunakan kanal yang ada, tentunya pihak terkait baik pemilik brand, departemen pemasaran, divisi komunikasi pemasaran, manajer jejaring sosial, agensi periklanan, perusahaan Public Relation maupun buzzer memerlukan tool untuk mengawasi aktivitas komunikasi di berbagai channel. Di sinilah Social Media Monitoring akrab disingkat SMM hadir menjawab kebutuhan tersebut.

Social Media Monitoring

Merupakan bagian dari Social Media Optimization (SMO), SMM menggunakan beberapa metode untuk menelurusi percakapan yang ada: otomatisi dengan engine, manual dengan intervensi manusia, atau gabungan keduanya.

Engine punya kemampuan menjaring dan mengintepretasikan percakapan. Dan juga bisa ‘diajarkan’ dengan cara diberikan algoritma dan pendekatan tertentu oleh kita sebagai pencipta sekaligus pengunanya.

Pendekatannya bisa pasif dimana hanya digunakan untuk mendengarkan percakapan saja dan aktif yang artinya SMM digunakan untuk menelusuri komunikasi tentang sebuah brand, tren maupun peristiwa tertentu.

Hal apa saja yang bisa dilakukan oleh SMM? Yang paling pertama tentunya media apa saja yang bisa ditelusuri. Hampir semua media sosial maupun percakapan yang ada saat ini seperti Twitter, Facebook, Google+ mailing list, blog, dan forum.

Fungsinya secara sederhana adalah menulusuri metriks berupa data kuantitatif (berapa banyak jumlah tweet yang diretweet, berapa jumlah Facebook page yang mendapatkan status ‘Like’, komentar pada sebuah blog, jumlah post dalam sebuah forum) serta data kualitatif (sentimen percakapan yang terjadi di semua media yang disebutkan di atas, apakah cenderung positif atau negatif atau gabungan keduanya).

Isi percakapan sendiri tergantung kata kunci yang ingin dijaring dan hampir bisa tentang apa saja: nama individu, perusahaan, brand, pujian, komplain, perilaku, sanksi, keinginan dan lain sebagainya.

Bagi korporasi, SMM merupakan salah satu tool Business Intelligence era digital karena selain bisa ‘mengawasi’ brandnya sendiri juga bisa menjaring sentiment brand para pesaingnya.

Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan hasil (output) yaitu laporan termasuk bentuk, tampilan, isi dan format file laporan. Bentuk dan tampilan biasanya menggunakan eleven visual seperti tabel dan grafik sementara format file yang didukung adalah format populer seperti csv, pdf dan xml.

Isi laporan, selain sentiment, bisa berupa intensitas (berapa jumlah twit mengenai klub Barcelona bulan lalu misalnya), tren (percakapan mengenai cagub tertentu apakah meningkat atau menurun) dan pengaruh (kanal mana dan pengguna teraktif yang membicarakan kedatangan Lady Gaga).


Dengan menggunakan SMM, maka kita akan mengetahui bagaimana brand kita dibicarakan dan dipersepsikan oleh publik termasuk kekuatan, kelemahan, tantangan maupun ancaman terhadap produk yang kita miliki.

Pelayanan terhadap konsumen juga diharapkan akan meningkat karena komplain maupun komplimen bisa segera ditindaklanjuti sehingga tingkat kepuasan mereka tetap terjaga sementara di sisi lain kinerja perusahaan diharapkan akan meningkat.

Riset dari lembaga Maritz menyatakan bahwa pelanggan yang memperoleh respons yang cepat setelah mereka menyebutkan brand tersebut di Twitter meningkatkan persepsi positif terhadap brand tersebut sampai dengan 83 persen.

Jika feedback dari pengguna secara proaktif ditelusuri dan ditindaklanjuti maka reputasi brand tersebut tentunya akan tetap terjaga dan positif. Selain itu dengan aktivitas BI, maka kekuatan dan kelemahan lawan akan bisa diketahui dan dianalisa, yang pada akhirnya akan membuat brand memperkuat kekuatannya dan memperbaiki kelemahannya agar bisa bersaing dan mengungguli para kompetitornya.

(Foto: PurpleStrategies)

Keterbatasan dan Tantangan

SMM hanya menjaring percakapan tentang apa yang ingin kita telusuri. Jika tidak ada percakapan tentang produk yang kita tawarkan, tentunya tidak ada data yang bisa dianalisa.

Tentunya deviasi hasil laporan akan selalu ada terlepas dari metode interpretasi yang dipilih (otomatisasi, manual atau gabungan keduanya). Di sinilah perlunya intervensi analis agar akurasi laporan dapat ditingkatkan. Setelah laporan berhasil diperoleh, tantangan yang akan dihadapi adalah memberikan bobot atas hasil percakapan di berbagai media tersebut serta menindaklanjuti hasilnya untuk

Masa Depan

Saat ini ada sekitar 200 tool dan platform SMM di seluruh dunia, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang mampu menyajikan begitu banyak fitur. Ada yang gratis dan ada pula yang berbayar.

Jumlah dan jenis media yang dapat dijaring, kecepatan dan metode menelusuri, menganalisa dan mengintepretasikan data dan informasi, jumlah dan jenis metriks serta laporan merupakan beberapa pertimbangan penting sebelum kita memutuskan tool atau platform mana yang akan digunakan.

Semua elemen pada SMM bisa disesuaikan tergantung dari produk mana yang akan dipilih. Hasil atau laporan dapat digunakan untuk berbagai keperluan strategis seperti pengembangan produk, pengembangan layanan konsumen, riset pemasaran, pengadaan event serta manajemen pelayanan pelanggan.

Masih banyak pengguna berkutat di tataran bagaimana cara menggunakan media sosial yang baik dan benar serta bermanfaat bagi berbagai pihak. Ini learning curve yang harus dilalui karena merupakan media yang tergolong baru.

Namun seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan peranan dan manfaat media digital ini bagi seluruh komponen stakeholder baik internal maupun eskternal, maka hal tersebut akan berbanding lurus dengan kehadiran dan penggunaan SMM.

Sebagaimana dimuat di DetikINET: