BYOD = Bring Your Own Danger?

Jakarta – Dalam artikel di media yang sama beberapa waktu lalu telah dibahas mengenai tren Bring Your Own Device (BYOD) seiring dengan meningkatnya konsumerisasi Teknologi Informasi (TI), bertambahnya jumlah perangkat bergerak per pengguna serta intensifnya penggunaan perangkat tersebut untuk kebutuhan yang makin individualis.

Menelisik sisi lain konsepsi ini, salah satu faktor adalah biaya implementasi, dimana apabila dikalkulasi lebih jauh, akan lebih tinggi ketimbang manfaat diperoleh. Perusahaan akan berfokus pada akses data ketimbang memperhatikan perangkat, infrastruktur tersedia termasuk Public Key Infrastructure (PKI).

Agar tepat sasaran dan berhasil, pengembangan kebijakan perlu mempertimbangkan perspektif fungsionalitas, dibandingkan perspektif Teknoogi Informasi, sehingga saat kita menentukan workflow yang akan digunakan, kita dapat mulai menerapkan kebijakan sesegera mungkin.

Survei terbaru perusahaan riset Gartner ada sekitar 1,2 miliar ponsel cerdas digunakan di seluruh dunia saat ini. Angka ini mendekati penggunaan komputer personal (desktop, laptop, netbook dan tablet PC). Sementara itu satu dari tiga perangkat terjual adalah ponsel cerdas.

Dua tahun lagi diperkirakan satu pekerja akan memiliki lebih dari 3 perangkat yang terhubung, meningkat cukup signifikan dari 2.8 perangkat di tahun ini. Di sisi lain, inisiatif mobilitas akan mengambil porsi 20 persen di tahun tersebut dibandingkan dengan 17 persen di tahun ini dimana peningkatan anggaran kemungkinan besar dialokasikan untuk kebijakan BYOD.

Berpindah ke Total Cost of Ownership (TCO), konsepsi BYOD mengandung dua komponen biaya (cost) yaitu eksternal (subscription fee, perangkat keras dan lunaknya) dan internal (biaya pemeliharaan termasuk kehilangan dan kerusakan).

Eksternal lebih mudah dikalkulasi karena komponen ini sudah sangatlah jelas, sementara biaya internal — menyangkut piranti lunak pendukung: pengelolaan perangkat bergerak, keamanan, jaringan nirkabel, access control systemhelp desk, administrasi dan pelatihan.

Tentunya total biaya tergantung di daerah mana konsepsi ini dijalankan dengan tren menurun seiring dengan biaya perangkat keras dan lunak yang relative akan semakin terjangkau.

Di sisi lain, segi positif implementasi BYOD adalah kaum profesional akan bekerja lebih lama. Riset teranyar Good Technology memperkirakan mereka bekerja di kantor tujuh jam lebih lama dalam seminggu dibandingkan biasanya. Masih diperlukan data tambahan untuk mengetahui apakah penggunaan perangkat bergerak pribadi ini meningkatkan produktivitas para pekerja.

Perdebatan makin meluas mengenai kepemilikan data di perangkat bergerak yang digunakan. Apabila ada kasus khusus dan perangkat perlu diinvestigasi lebih jauh, maka pihak perusahaan (merasa) berhak untuk memeriksa email, kalender, daftar kontak, situs yang pernah dikunjungi, terkait dengan aktivitas pekerjaan dan secara tidak langsung, yang bersifat pribadi.

Perhatian lain adalah saat adanya masalah pada devais yang digunakan. Apabila saat berkorespondensi via email terkait aktivitas pekerjaan ditemukan virus, pihak pemilik perangkat atau perusahaankah yang akan bertanggung jawab untuk memperbaiki masalah tersebut?

Infografik terbaru Trend Micro menyatakan 74 persen responden ingin agar perusahaan menjalankan BYOD baik secara penuh maupun terbatas sementara 47 persen perusahaan menyatakan mereka mengalami data breach atas penggunaan perangkat bergerak pribadi para pegawainya.

Masih menurut informasi yang sama, 73 persen CEO berpendapat bahwa BYOD merupakan hak karyawan namun hanya 44 persen eksekutif TI setuju terhadap hal ini. Grup/Divisi paling sibuk tentunya adalah keamanan TI (37 persen), disusul Help Desk (24 persen) dan Mobile Management dengan 14 persen.

60 persen dari eksekutif TI merasa mereka merupakan pihak paling bertanggung jawab atas implementasi konsepsi ini, sementara 90 persen eksekutif merasa pertanggungjawaban ada di pundak mereka.

Riset online Forrester terhadap 202 pemilik program owner di berbagai perusahaan di Amerika, Inggris, Prancis dan Jerman menunjukkan 60 persen implementasi dilakukan pada ponsel cerdas, 47 persen di tablet dan laptop dengan melibatkan partisipasi pihak eksternal yaitu konsultan dan pihak ketiga (vendor).


Ilustrasi (gigaom)

Tentunya, program ini tidak lepas dari ruang lingkup saat audit TI dilakukan. Konsekuensinya adalah bahwa pengguna harus menyetujui penggunaan piranti lunak dan layanan mobil management baik dengan spesifikasi platform yang sudah ditentukan oleh perusahaan maupun oleh para penggunanya sendiri.

Faktor pengikatnya adalah dokumen berisi perjanjian mengenai apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak. Termasuk persyaratan dari pihak perusahaan. Jailbreak jelas dilarang.

Dalam perjanjian bisa saja dicantumkan perusahaan berhak mengawasi device secara acak dan apabila terjadi kehilangan perangkat maka mereka diperbolehkan melakukan penghapusan data perusahaan padadevice pengguna.

Karena secara kepemilikan, perangkat merupakan properti karyawan, maka tentunya apabila terjadi gangguan fungsi dan membutuhkan layanan maupun dukungan teknis dan non-teknis, prioritas bantuan akan diberikan terlebih dahulu kepada perangkat milik perusahaan.

Faktor utama yang mendasari dijalankannya program ini adalah meningkatnya fleksibilitas cara bekerja dan produktivitas pengguna, dengan penghematan biaya perusahaan atas penggunaan perangkat menjadi faktor pendukung.

Sebagaimana indikator lain dalam perusahaan, metrik tersebut akan dikaji secara berkala dengan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dengan effort yang sudah dan harus dijalankan terutama dari sisi kerahasiaan dan keamanan data.

Konsekuensi logisnya, apabila benefit tidak sesuai dengan harapan, dalam jangka waktu tertentu, maka keberlangsungan program ini kemungkinan besar akan dipertimbangkan kembali.

Sebagaimana diterbitkan oleh DetikINET: http://inet.detik.com/read/2012/09/13/140211/2017352/398/byod–bring-your-own-danger

Advertisements

Perluas dan Tingkatkan Kualitas Jejaring Anda di Linkedin

Saya percaya mayoritas pembaca sudah mengetahui keberadaan dan sepak terjang jejaring profesional LinkedIn beberapa tahun terakhir. Diluncurkan sembilan tahun silam, the world largest professional platform dengan 175 juta pengguna di lebih dari 200 negara ini menunjukkan tingkat pertumbuhan yang perlahan namun steady. Tercatat ada sekitar 1.3 juta pengguna di Indonesia. Angka ini masih tergolong kecil bila dibanding 15 juta di India serta 27 juta di seluruh Asia.

Bagi yang sudah menggunakan, terbersit keinginan untuk mengetahui bagaimana kita bisa melebarkan jejaring – terhubung dengan profesional lain – maupun meningkatkan kualitas jejaring yang dimiliki. Untuk menjaga kualitas jejaring di media tersebut, “Rule of the Game” sudah ditetapkan oleh perusahaan yang bermarkas di Mountain View, California.

(foto: DigitalTrends)
 

Dengan asumsi bahwa profil kita 100% complete, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan business dan professional network yang luas, kuat dan berkualitas sekaligus membangun reputasi:

1. Berjejaringlah dengan profesional atau pebisnis di industri Anda. Memiliki 500 lebihconnection akan menjadi kebanggaan semu dan tidak membawa banyak manfaat apabila koneksi yang dimiiki berada di industri berbeda terlebih lagi apabila perbedaan tersebut sangatlah jauh. Memiliki circle di industri lain itu penting, namun hal tersebut tentunya menjadi prioritas yang kesekian. Atau Anda akan berencana untuk berpindah profesi  atau bidang usaha dari satu industri ke industri lainnya.

2. Ikuti Grup sesuai dengan latar belakang pendidikan, minat, maupun bidang tempat Anda bekerja. Pelajari lebih mendalam karakteristik grup (profil para anggota, topik, bahasan) termasuk intensi Group Owner dan para member untuk menciptakan iklim dan sarana diskusi yang sehat dan berkelanjutan.  Fasilitas ini memang belum terlalu populer di Indonesia, karena platform mailing list sebagai media tanya jawab dan diskusi masih lebih dominan digunakan.  Jika kita jeli akan menemukan beberapa grup dengan tingkat partisipasi, interaktifitas anggota, dan kualitas diskusi yang tinggi. Tentunya akan lebih mudah membangun jejaring dengan pihak lain yang memiliki “kesamaan” dengan kita, bukan? Lebih jauhnya, jika dirasa perlu, kita bisa membuat grup sesuai dengan preferensi  masing – masing.

3. Turut serta berpartisipasi dalam LinkedIn Answers. Dengan menjawab pertanyaan maka peluang untuk memperoleh predikat “Best Answer” menjadi lebih besar.  Salah satu manfaat yang bisa dipetik adalah dianggap sebagai Expert dalam topik tertentu oleh pengguna lain. Dengan terbangunnya credentials maka dengan sendirinya kesempatan untuk menerima LinkedIninvitation serta opportunity lain menjadi lebih besar.

4. Pastikan kita mengenal pengguna lain sebelum mengirimkan undangan. Pengiriman invitation membabi buta hanyalah akan mempersulit kita untuk memperluas jejaring karena adanya parameter apabila undangan yang dikirimkan ditolak maka kita perlu mengetahui alamat email seseorang setiap kali kita ingin mengirimkan undangan tersebut.  Faktor lain adalah preferensi pengguna tersebut bahwa mereka hanya akan menerima invitation dari pengguna lain yang mengetahui alamat email maupun limit kita bisa mengirimkan undangan tanpa alamat email sudah tidak tersedia.

Di body invitation, kita sebaiknya mencantumkan personal note berisi di mana dan kapan kita pernah berkenalan, alasan ingin terhubung dengan mereka, serta informasi lain yang mendukung. Customized message akan membuat penerima terkesan dan bisa jadi akan mengingat Anda lebih dibandingkan dengan pengguna lain di circle mereka.

5. Manfaatkan fitur Introduction sebijaksana mungkin. Sebagaimana proses networking secara offline, kita bisa menggunakannya apabila ingin berkenalan dengan pengguna lain dengan bantuan rekan yang berada di jejaring kita (1st Degree Connection).  Message berisi penjelasan singkat siapa diri kita, pengguna yang ingin ditambahkan serta alasan ingin terhubung jelas perlu disertakan.

6. Bangun reputasi dengan rekomendasi. Fitur ini sangatlah bermanfaat untuk membangunrapport saat Anda ingin menjalin hubungan profesional dengan public figure. Seringkali bagi pihak pemangku jabatan penting, eksekutif, atau pengusaha terkemuka, mereka akan melihat profil maupun reputasi dari pengguna lain melalui endorsement yang telah diterimanya. Probabilitas undangan untuk diterima menjadi semakin tinggi. Bagi yang sudah saling terhubung, hal ini akan meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitasnya di hadapan rekan kerja, partner bisnis, dan juga atasan mereka.

7. Connect, connect, connect. Agar lebih mudah mencari pengguna lain (rekan kerja, bisnis, teman kuliah dan lainnya) fitur “Connect with Colleagues”“Connect with Alumni” dan terutama“Connect with People You May Know” bisa dioptimalkan.

8. Permudah public profile. Make it simple. Jika belum, rubahlah menjadi sesederhana mungkin serta mudah diingat. Promosikan di berbagai media komunikasi Anda: email, situs web, blog, media sosial maupun jejaring sosial lain untuk meningkatkan kesempatan memperluas jejaring Anda.

9. Tingkatkan interaktivitas antar pengguna dengan “Status Update. Apabila kita memiliki content yang dirasakan akan bermanfaat bagi pengguna lain, kita bisa post hal tersebut melaluiupdate feed.  Jangan sungkan untuk berpartisipasi  – berkomentar, memberikan status “Like”,  atau melakukan reshare – serta mengirimkan pesan tertentu serta bermakna atas update yang ada.

10. Dapatkan business contact details yang komprehensif. Simpanlah semua data pengguna secara lengkap selain apa yang diinformasikan pada platform tersebut ke address book kita: nomor telepon (kantor, mobile), alamat perusahaan, messaging application ID, tanggal lahir dan lainnya. Tujuannya? Membangun hubungan dan komunikasi profesional yang lebih dekat, lebih personal. Hal ini akan membuat kita “stand out from the crowd”.

11. Memahami konsepsi Cross Posting. Pada dasarnya, Twitter merupakan jejaring informasi (network of information) sementara Facebook adalah jejaring pertemanan (network of friends). Tidak semua konten yang di share di dua jejaring sosial terpopuler tersebut cocok untuk di post di LinkedIn dan sebaliknya walaupun kita terhubung dengan beberapa pengguna yang sama di ketiga jejaring tersebut.

Semoga dengan tips di atas berbagai pintu menuju kesuksesan akan terbuka lebar. Let’s go and grab them. Selamat mencoba!

Sebagaimana dimuat di http://www.portalhr.com/komunitas/opini/perluas-dan-tingkatkan-kualitas-jejaring-anda-di-linkedin/