Seluk Beluk Social Media Council


(Kredit: prfirms)
Jakarta – Masih seputar media sosial, kali ini kita akan membahas seluk beluk kelompok kerja (task force) di dalam organisasi ataupun perusahaan yaitu dewan media sosial (Social Media Council).Secara singkat, tim ini dibentuk agar pengelolaan aktivitas di media sosial dapat dilakukan terpusat. Manfaatnya? Tumpang tindih pekerjaan dapat dihindari, ‘satu suara’ dalam menyampaikan informasi dan pernyataan ke publik, sekaligus dapat diredamnya penolakan maupun keengganan dari para pekerja atas eksekusi strategi, program, rencana dan kebijakan terkait dengan media sosial.Pembentukan dewan ini dapat dilakukan di jenis organisasi apa saja. Perusahaan, institusi pendidikan, pemerintahan (pusat maupun daerah), yayasan sampai dengan lembaga swadaya masyarakat selama aktivitas media sosial melibatkan banyak individu, divisi, unit bisnis, departemen, grup, kantor cabang, anak perusahaan, institusi afiliasi dan komponen organisasi lainnya.

Secara konkrit dan praktis, sebenarnya apa saja tugas dan kewajiban kelompok kerja lintas departemen ini? Biasanya dipimpin oleh posisi tertinggi di suatu organisasi, yaitu Direktur Utama, Presiden Direktur atau jabatan puncak di divisi pemasaran, Direktur Pemasaran, atau Chief Marketing Officer, atau bisa saja Manajer Komunikasi Korporat, maupun Social Media Manager.

Secara garis besar, dewan ini berperan dalam membuat, mengubah dan memperbaharui kebijakan dan panduan terkait media sosial, serta memberikan arahan penggunaan media ini untuk kebutuhan profesional.

Selain itu mereka juga akan memberikan persetujuan kanal mana yang akan digunakan dan akun mana saja yang perlu dibuat sehingga penyampaian pesan dan informasi menjadi lebih akurat, relevan, terarah dan terkoordinasi dengan baik.


(Kredit: StateOfSearch)
Agar pengelolaan dan pengawasan aktivitas di media tersebut lebih mudah, pokja ini juga akan memilih, mencoba dan memutuskan piranti lunak mana yang akan digunakan, terlepas dari piranti itu akan dikembangkan sendiri — membutuhkan effort cukup besar — atau diperoleh dari pihak ketiga.Menyelaraskan diri dengan tujuan dan kebijakan perusahaan, kelompok ini juga akan berkoordinasi dengan departemen lain, terutama Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi dan Hukum, supaya sejalan.Apabila ada sistem lain yang digunakan, Enterprise Content Management, Customer Relationship Management, Document Management Systems, maka koordinasi diperlukan agar piranti lunak tersebut bisa berkolaborasi, dan lebih baik

Dokumentasi kebijakan, panduan dan sosialisasi program juga merupakan ruang lingkup tugas mereka. Ini akan memudahkan perusahaan dan organisasi untuk menelusuri, mengawasi, memeriksa (Social Media Audit) dan melakukan perbaikan atas implementasi media sosial.

Tugas lain yang diemban adalah berbagi best practice dan kisah sukses secara internal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan ‘informal talk’ mengundang individu atau person-in-charge terkait.


(Kredit: LitmanLive)

Agar berjalan mulus, sponsor dan eksekutif perusahaan mutlak diperlukan. Dengan pendekatan top-down, pembentukan dan aktivitas Dewan akan berjalan lancar.

Dalam laporan terbaru McKinsey & Co berjudul ‘The social economy: Unlocking value and productivity through social technologies’ yang dibaca penulis, dengan membaiknya kolaborasi dan komunikasi antar individu di suatu organisasi, yang disumbangkan oleh sekitar 60 persen aktivitas penggunaan media sosial (dari total aktivitas pekerjaan kita), maka produktivitas karyawan akan meningkat sebesar 20 sampai dengan 25 persen.

Laporan ini diperkuat dengan analisa dari organisasi afiliasinya, McKinsey Global Institute, bahwa setiap tahunnya peningkatan produktivitas tersebut atas penggunaan teknologi sosial (social technology) di seluruh dunia di empat sektor industri memberikan kontribusi terhadap nilai ekonomis sebesar USD 1,3 triliun.

Keberadaan dewan ini di ranah negara maupun pemerintahan di kawasan Asia pada umumnya dan Asia Tenggara pada khususnya memang masih terlalu dini untuk dibicarakan.

Beberapa bulan lalu, Menteri Budaya Komunikasi dan Informasi Malaysia mengungkapkan perlunya pembentukan Dewan Media Sosial di negaranya. Mereka menganggap wadah sebagai pusat diskusi dan kebijakan atas semua aspek media sosial terutama penggunaan oleh 12 juta netizennya serta dampak hukumnya sudah dirasa perlu.

Di sisi lain, jika perusahaan sudah menyadari pentingnya wadah ini, berkomitmen atas pembentukan dan mendukung seluruh aktivitasnya, maka dapat dipastikan pada akhirnya para karyawan akan menjadi sumber daya sosial yang paling bernilai.

Sebagaimana dimuat di DetikINET: http://inet.detik.com/read/2012/12/17/094706/2120131/398/seluk-beluk-social-media-council?id771108bcj

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s