Jakarta Election Results: A Very Dark Day

Ahok Djarot, Goutama Bachtiar

(Credit: AhokDjarot.id)

Trying to draw the line further, today’s lessons learned:

1. Politicians will ALWAYS leverage (not only tend to, like what they had also done in the past) religion, race, and ethnicity to hold the constituents tight then later on grabbing their votes.

This is simply because they find them as the easiest, cheapest way to win any election across the country rather than relying on their competence from any perspectives (knowledge, skill, and attitude). Do less for more.

Never mind their competitiveness nor their so called programs – Does anyone really care? Seriously? Even if the society concern about them, the number of these logical individuals might be pretty limited. The majority of the voters’ mind share and heart share will be driven by religious considerations to whatever direction the candidate desires or wants.

If this way works in the capital city, then it shall also be successful in other cities and provinces. Geezzz…

2. The democracy, for the country struggling with it since 1998 (let alone the Old and New Order regime), is VERY costly. An arm and a leg. Both financially and non-financially. Conservative mindset, low Human Development Index have put more weight on the government’s shoulder for ages. Ouch.

3. Heading to other elections in the future, West Java Governor and 2019 presidential contests, at large, Indonesia’s economic growth, if other factors remain constant whilst similar noise occurs and wastes so much space and energy, may be staggering around 5% or worse below than that.

Why? Ever since Ahok’s saga, the discussion on the economic package has no room (harshly saying ‘stop’) during the cabinet meeting. Around October last year. I heard this story from a political and investment expert in his general lecture a few weeks ago.

Down the road, I hope I’m totally wrong. Or someone feels free to wake me up when I’m proven wrong, please…

Advertisements

Revitalisasi Teknologi Pendidikan Indonesia

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/08/27/398/laptopanakselokal285.jpg

Ilustrasi (detikcom)

Jakarta – Tergelitik untuk menyisir kembali perkembangan terakhir teknologi pendidikan (educational technology atau kerap kali dikenal sebagai technology in education dalam bahasa Inggris) di Indonesia dalam hubungannya dengan konsumerisasi TI adalah alasan mengapa tulisan ini dihadirkan kehadapan para pembaca.Pada dasarnya teknologi pendidikan (selanjutnya disingkat TP) adalah kajian teori dan praktik dimana sumber daya manusia, gagasan, peralatan, prosedur dan organisasi bersinergi dalam menciptakan masalah pembelajaran.

Selanjutnya pada akhirnya, kegiatan belajar menjadi efektif dan efisien, sehingga tujuan belajar tidak hanya dapat tercapai, namun kualitas belajar juga diharapkan meningkat.

Berada di sektor pendidikan dan pelatihan selama lebih dari satu dasawarsa, dengan fokus pada pendayagunaan dan pemanfaatan Telematika dalam aktivitas pembelajaran di pendidikan tingkat dasar dan menengah serta tinggi, ada beberapa kendala dan tantangan membuat kondisinya menjadi relatif stagnan.

Infrastruktur

Tidak bisa dipungkiri hadirnya Jardiknas belum cukup membantu peningkatan peran TP dalam dunia pendidikan di Nusantara.

Terdiri dari 4 zona jaringan (kantor Dinas/Institusi, Perguruan Tinggi, Sekolah, Guru dan Siswa) dikenal lewat nama DiknasNet, INHERENT, SchoolNet, TeacherNet dan StudentNet), Wide Area Network pendidikan dengan skala nasional yang dibiayai lewat anggaran Kementerian Pendidikan Nasional kerap dipertanyakan oleh banyak kalangan.

Mulai dari manfaat untuk bangsa, siswa, pengajar, sampai dengan keraguan atas berhasil atau tidaknya serta indikator lainnya. Konkritnya, apakah IT literacy level siswa dan guru meningkat? Apakah mereka sudah mampu untuk berinteraksi lewat mailing list, forum, atau jenis media sosial lainnya.

Termasuk juga dari sisi kuantitasnya seperti berapa banyak presentase dari mereka yang mampu menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran?

Bagi siswa dan mahasiswa sebagai pembelajar, mereka dapat menikmati layanan pembelajaran yang dilakukan secara online, yaitu dengan memanfaatkan internet dan juga sekaligus mengikuti ujian.

Kondisi lain, sehubungan dengan infrastruktur, tidak bisa disangkal bahwa tidak meratanya kualitas koneksi internet antara major dan minor cities berkaitan dengan jumlah pengguna di suatu lokasi tertentu tidak banyak membantu perkembangan pemanfaatan TP di sektor ini.

Sumber Daya Manusia

Walaupun sulit mencari data mengenai jumlah pengajar yang memahami teknologi dan terlebih lagi, mengintegrasikan serta memanfaatkannya untuk pembelajaran, yang jelas hampir dapat dipastikan tingkat pertumbuhannya tidak setinggi tingkat pertumbuhan pengguna internet yang mencapai 2-5 persen per tahun.

Telah dicapainya angka 55 juta pengguna internet tidak memberikan gambaran pasti dan tidak secara otomatis berbanding lurus dengan jumlah guru dan dosen yang melek TI.

Apabila ditelisik lebih detil, tentunya akan sangat sedikit jumlah tenaga pengajar yang memahami teknologi pembelajaran, serta mendayagunakannya sebagai media pembelajaran.

Ditambah lagi masalah mendasar seperti kompensasi para pendidik dimana sebagian besar masih dalam tingkat minimum, membuat mereka lebih sibuk dengan aktivitas mengajar di institusi pendidikan lainnya dibandingkan dengan memahami TI dan TP secara lebih mendalam.

Dari segi jumlah guru dan dosen, berdasarkan estimasi atas data terakhir DikNas tahun lalu, jumlahnya mencapai kurang lebih 3 juta dan 300 ribu, jumlahnya sebenarnya lebih dari cukup.

Mengutip pernyataan Anies Badewan, penggagas Indonesia Mengajar, persoalan terletak pada penyebarannya. Sebanyak 66% di daerah terpencil kekurangan sementara sekolah di lokasi lain berlebihan jumlahnya. Rasio antara jumlah guru dengan jumlah murid saat ini adalah 1:18 sementara dosen dengan mahasiswa 1:15.

Sejauh yang diamati, dari beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, tingkat keahlian para pengajarnya atas skillset TI maupun TP dan juga tenaga pendidik bidang TI sendiri masih tergolong rendah.

Tingkatan pengguna di power-user jarang dijumpai. Mayoritas masih di user-level. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena rendahnya intensitas pelatihan, workshop, dan event sejenisnya baik dari sektor swasta maupun pemerintah dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya.

Kelangkaan sumber daya instructional designer sedikit banyak turut berkontribusi atas statisnya kondisi sebagaimana dijabarkan pada paragraf sebelumnya.

Lulusan Teknologi Pendidikan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan praktis atas educational media, namun lebih diutamakan lagi mempunyai kemampuan mendesain media pembelajaran yang ideal.

Tingkat Pemanfaatan

Selain rendahnya integrasi TI dalam aktivitas pembelajaran (Computer-Based Training, Web-Based Training, e-Learning dan lain sebagainya), pemanfaatannya dalam pengelolaan manajemen pendidikan juga masih sangat minim terutama dari sisi kuantitas.

Utilisasi Learning Management Systems (LMS) lebih banyak ditemui di lembaga pendidikan swasta ketimbang negeri namun tetap saja jumlahnya tidaklah signifikan.

Akar masalahnya adalah kurangnya komitmen dari jajaran pimpinan untuk menerapkan TI dan TP di dalam institusinya mulai dari tataran infrastruktur, perangkat, tenaga pengajar sampai dengan pendidik di jajaran struktural.

Kurikulum

Rendahnya penerapan TI dalam pembelajaran dan berbagai kegiatan pendidikan tercermin dari kurikulum terutama Satuan Acara Perkuliahan dan Kalendar Akademik.

Diakomodasinya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dimulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di tahun 2004 jelas merupakan langkah yang tidak dapat dihindarkan.

Peran TI pada kurikulum terletak pada desain sistem pembelajaran dan pelaksanaan pembelajarannya dimana tujuan dari desain adalah menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.

Metodologi

Bagi institusi yang sudah memanfaatkannya elemen Instructional Design sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam setiap pelajaran dalam terpenuhi.

Secara umum, bisa disimpulkan bahwa integrasi TI secara penuh pada aktivitas dan pemanfaatannya untuk mengelola pendidikan masih sangat terbatas.

Apabila sudah pun, belum dimanfaatkan secara meluas. Penggunaan internet dan medianya lebih banyak digunakan untuk keperluan komunikasi ketimbang sebagai sarana pendidikan interaktif.

Beberapa lembaga terutama perguruan tinggi sudah cukup intensif dalam menggunakan internet sebagai media belajar – mengajar. Slide presentasi, tugas perkuliahan, paper, latihan dan project dari dosen diunggah di situs web, dan mahasiswa diarahkan untuk mengirimkan tugas, paper, project maupun latihan sampai dengan skripsi melalui web site tersebut maupun melalui surat elektronik.

Kita semua tentu masih ingat dengan program pendidikan melalui media televisi satu dekade silam. Ditujukan pada pendidikan luar sekolah (SMP Terbuka), inisiatif dari Televisi Pendidikan Indonesia ini, selain berisi tentang materi pelajaran sesuai dengan kurikulum saat itu, juga menayangkan berbagai program pengetahuan umum, pertanian dan peternakan.

Memang peran TP dan saat ini TI di dunia pendidikan di Indonesia telah berjalan cukup lama. Harus diakui bahwa radio dan televisi telah memegang peranan penting dalam meningkatkan penyebaran kesempatan pendidikan, dalam hal ini untuk aktivitas pembelajaran mandiri dan juga jarak jauh.

Satu harapan pasti adalah bahwa adanya goodwill di pemerintahan mendatang khususnya kementerian pendidikan serta komunikasi dan informasi agar lebih memperhatikan sektor ini, sementara di sisi lain terus menggulirkan ide–ide, wacana, gagasan, feedback melalui asosiasi profesi baik IPTPI maupun ISTPI.

Sementara itu mereka yang berprofesi sebagai pendidik dan pengajar, jika memang dimungkinkan, terus mengasah kemampuannya dalam memahami, mengimplementasi, dan mendayagunakan TI dan TP ke dalam kurikulum dan aktivitas belajar mengajar dimana institusi juga meningkatkan utilisasi TI dalam pengelolaan manajemen pendidikan.

Semua demi efisiensi dan efektivitas serta meningkatnya kualitas belajar yang pada akhirnya membawa peningkatan atas kualitas murid dan mahasiswa sebagai manusia seutuhnya.

P.S: Sebagaimana dimuat di situs DetikINET.