Tantangan Ketika Perusahaan Terjun ke Media Sosial


Ilustrasi (Craigpearce)

Jakarta – Bagi kita sebagai individu — dalam kapasitasnya sebagai pribadi — penggunaan media sosial biasanya hanya akan dipagari oleh ‘netiket’ yaitu aturan tidak tertulis atau seringkali dikenal sebagai konvensi, mengenai rambu-rambu yang harus dipatuhi dalam menggunakan media ini.

‘Tata krama’ ini sedikit berbeda dengan yang berlaku bagi perusahaan. Selain melibatkan banyak departemen, divisi, unit bisnis, entitas atau apapun namanya, juga melibatkan banyak karyawan dan yang lebih penting lagi, menyangkut merek (brand) perusahaan dan unsur finansialnya (nilai ekonomis merek).

Karena penggunaannya tidak sesederhana pengguna pribadi, sejauh yang diamati dan dialami penulis, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi dan perlu dipertimbangkan untuk mengimplementasikan media sosial di korporasi.

Apa media sosial hanya tren sesaat? Angka berikut ini akan berbicara lebih banyak. 150 juta pengguna Twitter dengan 350 juta tweet per hari, 175 juta pengguna LinkedIn, diaksesnya Facebook oleh 560 juta pengguna per harinya, hampir 80 jam video diunggah ke YouTube per menitnya.

Kemungkinan punah tentunya akan selalu ada termasuk bagi media sosial. Namun kini, media sosial sudah berusia lebih dari satu dasawarsa. Dan membahas tentang media sosial berarti membahas tentang platform atau layanan.

Sementara Twitter dan Facebook, merupakan merek dari penyedia platform atau layanan. Media akan bersifat lebih kekal. Di sisi lain, jika kondisi force majeure terjadi, dimana penyedia layanan tutup disebabkan oleh satu dan lain hal, mereka sudah menyiapkan diri dengan fitur untuk memindahkan konten dari satu platform ke platform lainnya.

Media sosial hanya cocok bagi bisnis konsumer. Pada beberapa artikel sebelumnya telah dibahas mengenai keberhasilan penggunaan media ini untuk bisnis dengan model Business-to-Business (B2B).

Karakteristik perusahaan yang bergerak di wilayah ini memahami pelanggannya lebih baik (karena segmentasi), memiliki pengetahuan produk lebih mendalam (karena siklus penjualan yang panjang), dan selalu menjaga dan mempererat hubungan bisnis dengan lebih intens.

Tren kelahiran social network for business atau social network for enterprise jelas menyiratkan sinyalemen bahwa ranah B2B memiliki potensi yang sangat menjanjikan.

Aktivitas yang menghabiskan waktu belaka. Setiap media, baik digital maupun non-digital, bersifat bagaikan dua sisi koin uang. Bisa digunakan untuk menghabiskan waktu (killing time), menghemat waktu (saving time) maupun berinvestasi pada waktu (investing in time).

Selain tergantung dari tujuan penggunaaan, faktor penentu lainnya adalah siapa/pihak mana yang menggunakan. Apabila kita dapat menyakinkan pemilik dan atau pihak manajemen mengenai manfaat media ini lewat studi kasus di perusahaan lain pada bidang industri yang sama, implementasi tinggal menunggu waktu saja.

Terlalu ‘liar’ sehingga sulit bahkan tidak bisa dikendalikan. Mayoritas perusahaan masih melihat media sosial sebagai jenis media baru yang sulit dikendalikan.

Terlalu bebas, terlalu demokratis, sulit diprediksi. Kenyataannya, saat ini dengan semakin kuat dan berpengaruhnya internet, era dimana perusahaan dapat mengendalikan mereknya secara penuh sudah berakhir. Hak ‘istimewanya’ tersebut nyaris hilang.

Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah terjun ke media sosial, menjalin percakapan dengan audiens dan membina hubungan yang lebih hangat dengan para pengguna, pembeli dan konsumennya, sehingga perusahaan dapat meningkatkan kendali atas merek yang dimilikinya.

Salah postingan bisa menjadi bumerang. Tentu saja premis ini tidak bisa disangkal. Mistyping dan twit spontan seringkali mengakibatkan tidak akuratnya informasi yang disampaikan. Jangka panjangnya hal ini akan menimbulkan reaksi negatif, protes berkepanjangan serta berdampak buruk pada nilai sebuah merek.

Biasanya, ini akan menjadi justifikasi bagi perusahaan untuk melarang karyawannya — menggunakan akun media sosial mewakili perusahaan — maupun memperketat kebijakan media sosialnya.

Sisi positifnya adalah, dengan kehadiran merek di media sosial, mereka bisa segera cepat bereaksi, melakukan ‘counter‘, melakukan klarifikasi atau merevisi pernyataannya sehingga opini dan persepsi publik bisa diluruskan. Reputasi perusahaan juga bisa diselamatkan.

Risiko atas pelanggaran hukum. Departemen marketing terutama marketing communication dan public relation serta departemen legal perlu diikutsertakan dan terlibat secara aktif dalam penyusunan cetak biru, kerangka dan kebijakan media sosial, termasuk manajemen resiko.

Kita sadar betul bahwa resiko akan selalu ada. Yang perlu dilakukan adalah mengelolanya sedemikian rupa sampai tingkat minimal dengan berbagai cara yaitu mengambil, memitigasi, memindahkan maupun menghindari resiko.

Kepatuhan terhadap peraturan perusahaan. Dengan partisipasi dari kedua departemen diatas, maka seharusnya apa yang disusun, baik cetak biru sampai dengan rencana tindakan, akan melindungi rahasia dapur perusahaan, memenuhi asas kepatuhan serta menghindarkan perusahaan dari tuntutan hukum.

Tidak adanya personel yang mumpuni. Kesenjangan kompetensi bisa diatasi dengan program pelatihan bagi staf yang terlibat. Bentuk pelatihan bisa bersifat teknis yaitu bagaimana mengelola berbagai jenis akun seefektif dan seefisien mungkin, dengan memahami tujuan, strategi dan perencanaan media sosial perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Terlalu jauhnya kesenjangan kemampuan bisa dipecahkan melalui perekrutan staf dengan skillset yang sesuai. Jumlah sumber dayanya tinggal disesuaikan dengan intensitas dan kompleksitas eksekusi dan implementasi media sosial di perusahaan.


(Kredit: Farenheit Marketing)

Aktivitas: biaya atau investasi? Apabila sudah diputuskan akan menggunakan media sosial secara komprehensif, maka indikator finansial Return On Investment (ROI) dapat dihadirkan kepada pihak manajemen.

Secara sederhana, tolak ukur ini berpijak kepada formula: (manfaat-biaya)/biaya. Menghitung biaya secara kasat mata jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengkalkulasi manfaat.

Perlu diingat, apabila salah satu tujuan perusahaan dengan media ini adalah mendapatkan ‘lead‘, bukan sekadar berpromosi dan melayani pelanggan, maka sangatlah teramat wajar untuk mengakomodasinya sebagai salah satu komponen manfaat. Ini bisa menjadi kartu As.

Bervariasinya keinginan berbagai departemen. Fenomena ini, dan yang sebaliknya, yaitu timbulnya kebingungan departemen mana yang harus mengelola dan bertanggung jawab atas eksekusi, sangatlah umum dijumpai.

Sebagai sesuatu yang relatif baru, pembentukan tim lintas departemen/divisi berisi staf media sosial dan dipimpin oleh community manager sebagai titik sentral serta pusat koordinasi aktivitas maupun pendirian dewan media sosial (social media council) patut dipertimbangkan.

Wacana rekrutmen karyawan untuk tim sosial media atau melakukan alih daya (build versus buy) bisa menjadi perdebatan cukup sengit dan panjang.

Apabila mayoritas persepsi negatif — sebagaimana sudah disampaikan di atas — bisa diluruskan, maka bersiaplah untuk menyusun cetak biru, kebijakan, panduan, maupun perencanaan media sosial bagi perusahaan kita.

Let’s get it on!

Sebagaimana dimuat di detikINET: http://inet.detik.com/read/2012/11/21/091515/2096611/398/tantangan-ketika-perusahaan-terjun-ke-media-sosial

Meniti Perkembangan Google+ dalam 60 Hari

Jakarta – Berbagai fitur baru dan layanan tambahan Google+ (G+) sudah diluncurkan oleh Google untuk meningkatkan penggunaan maupun jumlah pengguna dalam beberapa waktu terakhir.

Sudah hampir dua bulan sejak diluncurkan 28 Juni lalu dengan jumlah pengguna, menurut comScore.com, sekitar 30 juta dimana 8 juta pengguna berasal dari Amerika Serikat. Rekapitulasi fitur dan layanan tersebut ada di paragraf berikutnya.

8 Juli. G+ Extension di G+ Chrome WebStore. G+ Facebook extension dari CrossRider untuk menambahkan stream Facebook kita ke G+ merupakan salah satu extension dari sekitar 60 extension yang tersedia untuk browser Google Chrome.

19 Juli. Aplikasi Google+ untuk iPhone. Tidak lama setelah diluncurkan, aplikasi ini langsung berada di peringkat teratas daftar aplikasi gratis (free app) di AppStore.

21 Juli. Akuisisi Fridge dan Integrasi dengan G+. Situs jejaring sosial Fridge yang diakusisi, direncanakan akan diintegrasikan dengan proyek ini.

5 Agustus. Open Registration. Bagi yang ingin memiliki akun G+ cukup melakukan pendaftaran dengan akun email Gmail.

8 Agustus. Usability Study. Pengguna bisa memberikan saran, gagasan, keluhan dan pujian kepada tim pengembang G+. Studi ini berbentuk wawancara, diskusi kelompok dan mengisi kuesioner.

8 Agustus. Aplikasi G+ di AppStore. Tersedia untuk iPod Touch, iPhone dan iPad, aplikasi gratis berversi 1.0.2.1966 dan ukuran file 5.5 MB ini membutuhkan iOS 4.0 ke atas. Selain “Circle” dan “Stream” terdapat juga fitur “Huddle” untuk mengirimkan dan menerima pesan ke grup. Sayangnya opsi geotagging belum bisa diaktifasi maupun nonaktifasi saat melakukan post, serta belum mendukung posisi lanskap.

Screenshot
Tampilan Aplikasi Google+ di iPhone

10 Agustus. Situs Google+ Platform Blog. Blog di situs blogspot.com ini menjadi sumber informasi dan pengumuman resmi proyek G+. Post pertama ditulis oleh David Glazer, Google Engineering Director. Mayoritas plusser lebih menginginkan adanya stream di akun G+ dibandingkan dengan blogspot karena mereka cukup “memantau” informasi dan pengumuman tersebut dengan “single console” saja.

10 Agustus. Adanya tautan di halaman home page yang dapat diinformasikan kepada rekan yang tertarik untuk mendaftarkan dirinya di G+.

11 Agustus. Social Games. Direncanakan akan dirilis bertahap, pada tahap awal 16 permainan sudah bisa mulai dinikmati oleh para pecandu game. Zynga Poker dari Zynga,Diamond Dash dari Wooga, Bejeweled Blitz dari PopCap, Angry Birdsdari Rovio dan Sudoko adalah beberapa game populer yang diluncurkan.

Berada dalam stream tersendiri dan dapat diakses melalui tombol “Games” di sebelah tombol “Circle”, pengguna memiliki kendali penuh terutama kapan mereka melihat, dengan siapa bermain, cara bermain, dan saling berbagi informasi mengenai status permainan.

FarmVille dan Mafia Wars, dua game terpopuler besutan Zynga, diperkirakan akan hadir pada tahap selanjutnya. Sejauh ini, Crime City merupakan game terpopuler di G+.

Sebagaimana disampaikan oleh David Glazer bahwa user experience dan developer experience sangatlah diutamakan sehingga kualitas game yang dirilis jauh lebih penting dibandingkan dengan kuantitasnya. Perusahaan pengembang game dan game baru termasuk akses API dan SDK akan ditambahkan seiring dengan berjalannya waktu.

Saat ini akses API dan SDK memang hanya dibuka untuk para pengembang game besar. Untuk para pengembang lain, bisa mendaftarkan dirinya di sini untuk memperoleh informasi selanjutnya.

Screenshot

Pasar Social Games, yang menjadi salah satu primadona untuk memonetisasi jejaring sosial, memang sangat menggiurkan. ThinkEquity, bank investasi ternama, memprediksikan penjualan virtual goods, dengan pertumbuhan eksponensial, akan mencapai 20,3 miliar dolar pada tahun 2014.

12 Agustus. Integrasi dengan Social Search. Post yang dilakukan oleh pengguna akan muncul di Social Search. Google Social Search merupakan proyek dua tahun lalu yang menggabungkan hasil pencarian social search dengan hasil pencarian reguler.

13 Agustus. Kebijakan tentang nama pengguna. Diharapkan pengguna menggunakan nama aslinya dengan urutan nama pertama, nama tengah (jika ada), dan nama keluarga (jika ada). Nama panggilan diperbolehkan dengan syarat dicantumkan di bagian nama panggilan. Penggunaan karakter khusus tidak diperolehkan.

Keinginan pengguna akan penggunaan “nama beken” mungkin nantinya bisa diakomodasi dengan adanya bagian untuk “nama alias”. Untuk membedakan pengguna dengan nama lengkap yang sama, bisa memanfaatkan foto profil.

20 Agustus. Informasi yang disampaikan oleh Denise Ho, Google+ Photos Product Manager, bahwa pengguna dapat memilih foto profil mereka menggunakan web camera serta tersedianya opsi untuk mengirimkan pesan pribadi apabila ada pergantian foto profil.

20 Agustus. Setelah game,fitur lain yang ditambahkan adalah layananvideo conferencedengan sesama pengguna saat menonton video dari situs YouTube menggunakan G+ Hangout. Klik tombol “Share” pada video di YouTube dan opsi tersebut akan muncul yaitu “Start a Google+ Hangout”. Saat peluncuran akhir Juni lalu, yang dapat dilakukan sesama pengguna adalah menonton video YouTube melalui Hangouts.

Screenshot
Layanan Video Conference Saat Menonton Video di YouTube dengan “Hangout”

21 Agustus. Verified Account. Google akan mulai melakukan verifikasi akun pengguna terutama akun selebritis dan figure publik. Sesudahnya verifikasi kalangan umum akan dilaksanakan. Akun jenis ini akan ditandai dengan adanya teks “verified name” di sebelah kanan nama pemilik akun.

Tujuannya adalah memastikan “keaslian” akun bahwa akun tersebut memang milik pengguna yang bersangkutan. Sayangnya status ini belum dapat dilihat jika menggunakan aplikasi Android.

Screenshot
Tampilan teks “Verified Name”

24 Agustus. Pengguna sudah bisa melihat informasi kepada siapa saja album foto yang di post oleh pengguna lain itu ditujukan terlepas apakah itu untuk “extended circle”, atau “limited” circle.

Dari sudut pandang privasi, beberapa pengguna justru menginginkan hal yang sebaliknya, di mana informasi pengguna lain itu tidak ditampilkan. Keinginan lain adalah melakukan tagging foto dengan menggunakan mobile app, baik di platform Android maupun iOS.

Sampai artikel ini ditulis, 5 besar akun dengan follower terbanyak diduduki oleh Mark Zuckerberg, Larry Page, Sergey Brin, Pete Cashmore, dan Ray William Johnson.

Informasi dari socialstatistics.com dan singlegrain.com menyebutkan bahwa pengguna pria masih dominan dengan prosentase sebesar 70.3% di mana pengguna terbanyak berprofesi sebagai insinyur, pengembang, desainer, mahasiswa dan penulis.

Masih akan banyak fitur baru dan layanan tambahan yang diberikan di masa mendatang. Integrasi dengan produk Google lainnya seperti Google Music dan Google Docs cukup ditunggu para pengguna. Mengutip Vic Gundotra, proyek ini akan menjadi ranah jejaring sosial yang “sesungguhnya”.

Bagi plussers yang sudah menggunakan G+ sekian lama, apakah sudah “nyaman” berada di “rumah baru” ini?

Sebagaimana diterbitkan oleh DetikINET: http://inet.detik.com/read/2011/09/05/161535/1715915/398/meniti-perkembangan-google–dalam-60-hari

Kala Jejaring Sosial Rasuki Jiwa Perusahaan

Jakarta – Manajemen puncak menekankan perlunya cetak biru dan rencana jejaring sosial perusahaan. Public Relations ingin menggunakan Twitter. Departemen pemasaran lebih menyukai Facebook dan ingin membuat fans page. Manajer Sumber Daya Manusia menyukai LinkedIn. Penyelia customer service menginginkan adanya blog. Sementara bagian Teknologi Informasi mengagumi Google+. Inilah tanda jejaring sosial sudah ‘merasuki’ jiwa dan sanubari perusahaan.

Peran dan Manfaat

Jejaring sosial sebagai bentuk Customer Relationship Management (CRM) yang paling mumpuni dengan dukungan teknologi informasi adalah fakta yang tidak diragukan lagi. Dengan memanfaatkan jejaring ini, perusahaan dapat berkomunikasi lebih dinamis dan interaktif dengan publik termasuk parastakeholder (pembeli, pelanggan, pemasok dan mitranya) serta lebih cepat dalam memperoleh feedback(kritik, saran, gagasan, keluhan).

Multiplier effect‘ yang diperoleh jelas lebih dahsyat. Promosi program baru perusahaan dapat menjangkau lebih banyak konsumen, calon konsumen maupun jenis audiens lainnya. Riset pemasaran juga bisa memanfaatkan media ini di mana hasil riset diperoleh lebih cepat dan bisa digunakan langsung untuk merancang strategi penjualan perusahaan. Jangkauan dan ruang lingkup perusahaan meluas.

Informasi yang disampaikan lewat media ini memiliki jangkauan global pengelolaan akun yang jauh lebih mudah dibandingkan situs web. Dan lagi, semua jejaring sosial dapat dimanfaatkan secara gratis, kecuali untuk beberapa fitur tambahan.

Dengan melakukan aktivitas browsing pada situs YouTube, Facebook, Twitter atau jejaring sosial lainnya, kita dapat mengetahui feedback dan persepsi publik yang ‘lebih jujur’ dan ‘lebih spontan’ terhadap perusahaan ataupun merek yang kita miliki. Apa yang disukai, tidak disukai, menarik perhatian, lucu, tidak berkenan dan lainnya. Selain itu informasi sejenis bisa diperoleh melalui common interest group, fans page serta Google Alert.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan media ini adalah memastikan konsistensi semua pesan yang disampaikan melalui berbagai platform yang ada. Ini diperlukan untuk menjaga citra perusahaan. Mudah dilaksanakan karena integrasi antar platform jejaring sosial sudah tersedia.

Walaupun suasana komunikasi bersifat informal, perlu diingat bahwa akun yang dibuat mewakili perusahaan sehingga profesionalisme harus tetap dijaga. Dengan komunikasi yang lebih intensif dan ekstensif, user engagement akan menjadi lebih lama, sehingga kedekatan emosional dan sense of belonging mereka juga meningkat.

Perusahaan wajib memberikan respons dan jawaban terbaik agar ‘mind share’ maupun ‘heart share‘ public tetap terjaga. Jenis informasi yang disampaikan juga harus dibedakan berdasarkan jenis komunikan, apakah itu pembeli, pengguna, konsumen, mitra, pemasok dan lainnya.

Penggunaan Jejaring Sosial

Mengutip riset yang dilakukan Burlingame’s Jobvite Inc., 83% perusahaan akan menggunakan jejaring sosial untuk proses rekrutmen tahun depan, 78% menggunakan Linkedin, 55% Facebook dan Twitter di tempat ketiga dengan 45%.

Menurut riset Forrester Research, prediksi penjualan ritel secara online di dunia 3 tahun ke depan akan bertambah 15% setiap tahunnya dimana tahun 2013 diperkirakan akan mencapai USD 410 miliar. Dengan jumlah pasar sebesar itu, maka akan banyak sekali penjual, pembeli serta transaksi online yang terjadi.

Pada tahun yang sama, 33% pembeli online akan mengadakan ‘riset skala kecil’ terlebih dahulu untuk menemukan harga yang paling kompetitif dan mereka juga akan menjadi pembeli yang lebih rasional ketimbang impulsif. 54% pembelian offline dipengaruhi oleh riset online dan terutama jejaring sosial sehingga investasi perusahaan atas platform jejaring sosial tidak pelak lagi merupakan sebuah keharusan.

Statistik Facebook, Twitter dan Linkedin

Total anggota Facebook di seluruh dunia saat ini sudah mencapai 730 juta di lebih dari 213 negara. Amerika Serikat memiliki pengguna terbanyak dengan 153 juta, disusul Indonesia 39 juta, India 33 juta, Inggris 30 juta dan Turki 29 juta sebagaimana data dari Socialbakers.com.

Jakarta merupakan kota dengan pengguna Facebook terbanyak di seluruh dunia dengan 17.5 juta, diikuti Istanbul (9.6 juta), Mexico City (9.4 juta) dan London (7.7 juta).

Dengan pertumbuhan jumlah pengguna sebesar 20% setiap bulannya, penetrasi dan perkembangan internet di Brasil dan India, dua negara di dunia dengan populasi penduduk yang padat dan pertumbuhan pesat pengguna Facebook di sana, diperkirakan akhir tahun ini jumlah pengguna akan mencapai 800 juta anggota.

Untuk brand, peringkat 5 besar didominasi oleh merek asal Amerika Serikat: Coca-Cola dengan 33 juta fans, Disney 28 juta, Starbucks 24 juta, Oreo 23 juta dan Red Bull 22 juta.

Di Indonesia sendiri, Surfer Girl berada di peringkat teratas dengan 1.8 juta fans. Chocolatos berada di peringkat kedua dengan 1.7 juta fans, diikuti BlackBerry Indonesia (1.3 juta), Yamaha Motor Indonesia (1.2 juta) dan Starbucks Indonesia (616 ribu).

Riset dari Exact Target menyebutkan bahwa, 69% pengguna Facebook merupakan fans dari satu atau lebih perusahaan (Company Pages) sementara 92% pemasar sudah menggunakan Facebook untuk menjalankan aktivitas penjualan dan pemasarannya. 75% di antaranya bakal lebih sering menggunakannya untuk kedua aktivitas tersebut di masa yang akan datang.

Dari 300 juta pengguna Twitter di seluruh dunia, Indonesia kembali berada di peringkat pertama dengan jumlah pengguna terbanyak di antara negara Asia lainnya dengan 7 juta pengguna, disusul Jepang (3.5 juta) dan India (2.3 juta).

Secara global Indonesia berada di peringkat enam setelah Amerika Serikat, Inggris, Brasil, Kanada dan Australia. Ada 1.5 juta tweet dikirimkan setiap harinya oleh pengguna di Indonesia dengan jumlah paling banyak dilakukan pada pukul 6 sore sampai dengan 10 malam. Total ada 200 juta tweet/post dikirimkan dan 500.000 akun Twitter baru yang dibuat setiap harinya.

Data tersebut sekedar memberikan gambaran aktivitas komunikasi pada situs web yang berada di posisi 9 sebagai situs yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Di kalangan korporasi, dari survei yang dilakukan terhadap 100 perusahaan teratas di daftar Fortune Global 500, 77% di antara mereka sudah mempunyai akun Twitter dengan 72% perusahaan berasal dari Amerika Serikat, 83% perusahaan Eropa dan 67% perusahaan di kawasan Asia Pasifik.

Setiap perusahaan rata – rata memiliki 5.8 akun Twitter dengan porsi posting berita dan informasi terbaru perusahaan sebesar 88%, pelayanan pelanggan 40%, tawaran/promo 28% dan informasi pekerjaan 10%. Dari jumlah followers, Whole Foods Market merupakan merk terpopuler (2 juta follower), disusul JetBlue Airways (1.7 juta), Threadless (1.62 juta), woot.com (1.61 juta) dan Starbucks Coffee (1.6 juta)

Sementara itu, situs jejaring professional terbesar di dunia yaitu Linkedin, yang mulai populer di kawasan Asia termasuk Indonesia, ‘dikuasai’ oleh Amerika Serikat dengan 51 juta pengguna, India dengan 11 juta, Inggris 7 juta, Brazil 5.3 juta dan Kanada dengan 4.3 juta dengan latar belakang pengguna berasal dari 190 lebih industri. Jejaring ini berkembang pesat di Brazil dengan pertumbuhan tiga digitnya, 428%, selama setahun diikuti oleh Mexico dan India.

Saat ini tercatat 1 juta guru bergabung dengan 20% pengguna berasal dari sektor jasa, 9% dari keuangan dan 8% dari teknologi. Mengutip situs mashable, ada sekitar 18 juta anggota berpatisipasi pada Linkedin grup dengan 1.2 juta post dan komentar per minggunya.

Sejak tahun lalu, hampir semua eksekutif puncak perusahaan di Fortune 500 memiliki akun Linkedin. Tercatat 73 perusahaan Fortune 100 menggunakan layanan Linkedin Hiring Solutions untuk proses rekrutmennya.

Perusahaan dapat memanfaatkan layanan direktori service provider untuk aktivitas promosi, bergabung maupun membuat grup untuk mendiskusikan topik tertentu, berpartipasi dalam Linkedin Q & A, company profile dan company buzz.

Kisah Sukses 

American Express dan HSBC adalah dua perusahaan di dunia yang menggunakan ‘teknologi jejaring sosial’ dengan cara yang inovatif dan berorientasi pada bisnis untuk memberdayakan mitra mereka agar mampu mengembangkan bisnis mereka secara mandiri. Keduanya bisa dijadikan contoh kesuksesan jejaring sosial untuk model bisnis Business-to-Business (B2B).

Amex mengembangkan forum terbuka dimana para mitranya bisa mengakses informasi dari berbagai topik inovasi, manajemen, gaya hidup sampai teknologi. Pada forum yang memiliki 2 juta anggota ini, mitra bisa saling mendiskusikan topik tertentu dan memanfaatkan direktori bisnis yang eksklusif untuk berjejaring sesama mitra.

Di sisi lain, HSBC mengembangkan Business Network dimana para mitra disediakan aplikasi dan blog serta jejaring sosial yang dikembangkan sendiri untuk memfasilitasi pertukaran informasi, saling berbagi serta berjejaring.

Secara makro, sebagaimana dilaporkan oleh situs web thenextweb.com, jejaring sosial lebih banyak digunakan oleh model bisnis B2B dibandingkan B2C. Mengapa? Karena pengguna jejaring sosial terbanyak dari kalangan korporasi adalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang notabene menjalankan usahanya dengan model bisnis B2B.

Berbeda dengan usaha besar (big enterprise) yang fokus pada produk maupun layanan dengan model bisnis B2C. UKM akan lebih ‘lincah’, ‘fleksibel’ dan responsif dalam penggunaannya.

Untuk medianya sendiri, Facebook dan Twitter lebih cocok digunakan oleh perusahaan B2C dimana kisah sukses OldSpice dan Lionsgate Film menjadi menarik untuk disimak sementara Linkedin lebih banyak digunakan oleh perusahan B2B.

Terlepas dari model bisnis perusahaan, apakah B2B atau B2C, setiap perusahaan sudah semestinya mengetahui platform jejaring sosial terbaik untuk digunakan oleh mereka dengan mempertimbangkan beberapa faktor lain seperti merk, pemasok, pembeli, konsumen dan terutama pelanggan.

Bagi yang belum menggunakan, bisa mulai merencanakan cetak biru jejaring sosial termasuk menentukan SDM dan departemen ataupun SubKontraktor yang akan menangani serta membuat panduan jejaring sosial bagi para karyawannya.

Sebagaimana diterbitkan di DetikINET: http://inet.detik.com/read/2011/08/11/140455/1701495/398/kala-jejaring-sosial-rasuki-jiwa-perusahaan