Revitalisasi Teknologi Pendidikan Indonesia

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/08/27/398/laptopanakselokal285.jpg

Ilustrasi (detikcom)

Jakarta – Tergelitik untuk menyisir kembali perkembangan terakhir teknologi pendidikan (educational technology atau kerap kali dikenal sebagai technology in education dalam bahasa Inggris) di Indonesia dalam hubungannya dengan konsumerisasi TI adalah alasan mengapa tulisan ini dihadirkan kehadapan para pembaca.Pada dasarnya teknologi pendidikan (selanjutnya disingkat TP) adalah kajian teori dan praktik dimana sumber daya manusia, gagasan, peralatan, prosedur dan organisasi bersinergi dalam menciptakan masalah pembelajaran.

Selanjutnya pada akhirnya, kegiatan belajar menjadi efektif dan efisien, sehingga tujuan belajar tidak hanya dapat tercapai, namun kualitas belajar juga diharapkan meningkat.

Berada di sektor pendidikan dan pelatihan selama lebih dari satu dasawarsa, dengan fokus pada pendayagunaan dan pemanfaatan Telematika dalam aktivitas pembelajaran di pendidikan tingkat dasar dan menengah serta tinggi, ada beberapa kendala dan tantangan membuat kondisinya menjadi relatif stagnan.

Infrastruktur

Tidak bisa dipungkiri hadirnya Jardiknas belum cukup membantu peningkatan peran TP dalam dunia pendidikan di Nusantara.

Terdiri dari 4 zona jaringan (kantor Dinas/Institusi, Perguruan Tinggi, Sekolah, Guru dan Siswa) dikenal lewat nama DiknasNet, INHERENT, SchoolNet, TeacherNet dan StudentNet), Wide Area Network pendidikan dengan skala nasional yang dibiayai lewat anggaran Kementerian Pendidikan Nasional kerap dipertanyakan oleh banyak kalangan.

Mulai dari manfaat untuk bangsa, siswa, pengajar, sampai dengan keraguan atas berhasil atau tidaknya serta indikator lainnya. Konkritnya, apakah IT literacy level siswa dan guru meningkat? Apakah mereka sudah mampu untuk berinteraksi lewat mailing list, forum, atau jenis media sosial lainnya.

Termasuk juga dari sisi kuantitasnya seperti berapa banyak presentase dari mereka yang mampu menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran?

Bagi siswa dan mahasiswa sebagai pembelajar, mereka dapat menikmati layanan pembelajaran yang dilakukan secara online, yaitu dengan memanfaatkan internet dan juga sekaligus mengikuti ujian.

Kondisi lain, sehubungan dengan infrastruktur, tidak bisa disangkal bahwa tidak meratanya kualitas koneksi internet antara major dan minor cities berkaitan dengan jumlah pengguna di suatu lokasi tertentu tidak banyak membantu perkembangan pemanfaatan TP di sektor ini.

Sumber Daya Manusia

Walaupun sulit mencari data mengenai jumlah pengajar yang memahami teknologi dan terlebih lagi, mengintegrasikan serta memanfaatkannya untuk pembelajaran, yang jelas hampir dapat dipastikan tingkat pertumbuhannya tidak setinggi tingkat pertumbuhan pengguna internet yang mencapai 2-5 persen per tahun.

Telah dicapainya angka 55 juta pengguna internet tidak memberikan gambaran pasti dan tidak secara otomatis berbanding lurus dengan jumlah guru dan dosen yang melek TI.

Apabila ditelisik lebih detil, tentunya akan sangat sedikit jumlah tenaga pengajar yang memahami teknologi pembelajaran, serta mendayagunakannya sebagai media pembelajaran.

Ditambah lagi masalah mendasar seperti kompensasi para pendidik dimana sebagian besar masih dalam tingkat minimum, membuat mereka lebih sibuk dengan aktivitas mengajar di institusi pendidikan lainnya dibandingkan dengan memahami TI dan TP secara lebih mendalam.

Dari segi jumlah guru dan dosen, berdasarkan estimasi atas data terakhir DikNas tahun lalu, jumlahnya mencapai kurang lebih 3 juta dan 300 ribu, jumlahnya sebenarnya lebih dari cukup.

Mengutip pernyataan Anies Badewan, penggagas Indonesia Mengajar, persoalan terletak pada penyebarannya. Sebanyak 66% di daerah terpencil kekurangan sementara sekolah di lokasi lain berlebihan jumlahnya. Rasio antara jumlah guru dengan jumlah murid saat ini adalah 1:18 sementara dosen dengan mahasiswa 1:15.

Sejauh yang diamati, dari beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, tingkat keahlian para pengajarnya atas skillset TI maupun TP dan juga tenaga pendidik bidang TI sendiri masih tergolong rendah.

Tingkatan pengguna di power-user jarang dijumpai. Mayoritas masih di user-level. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena rendahnya intensitas pelatihan, workshop, dan event sejenisnya baik dari sektor swasta maupun pemerintah dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya.

Kelangkaan sumber daya instructional designer sedikit banyak turut berkontribusi atas statisnya kondisi sebagaimana dijabarkan pada paragraf sebelumnya.

Lulusan Teknologi Pendidikan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan praktis atas educational media, namun lebih diutamakan lagi mempunyai kemampuan mendesain media pembelajaran yang ideal.

Tingkat Pemanfaatan

Selain rendahnya integrasi TI dalam aktivitas pembelajaran (Computer-Based Training, Web-Based Training, e-Learning dan lain sebagainya), pemanfaatannya dalam pengelolaan manajemen pendidikan juga masih sangat minim terutama dari sisi kuantitas.

Utilisasi Learning Management Systems (LMS) lebih banyak ditemui di lembaga pendidikan swasta ketimbang negeri namun tetap saja jumlahnya tidaklah signifikan.

Akar masalahnya adalah kurangnya komitmen dari jajaran pimpinan untuk menerapkan TI dan TP di dalam institusinya mulai dari tataran infrastruktur, perangkat, tenaga pengajar sampai dengan pendidik di jajaran struktural.

Kurikulum

Rendahnya penerapan TI dalam pembelajaran dan berbagai kegiatan pendidikan tercermin dari kurikulum terutama Satuan Acara Perkuliahan dan Kalendar Akademik.

Diakomodasinya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dimulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di tahun 2004 jelas merupakan langkah yang tidak dapat dihindarkan.

Peran TI pada kurikulum terletak pada desain sistem pembelajaran dan pelaksanaan pembelajarannya dimana tujuan dari desain adalah menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.

Metodologi

Bagi institusi yang sudah memanfaatkannya elemen Instructional Design sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam setiap pelajaran dalam terpenuhi.

Secara umum, bisa disimpulkan bahwa integrasi TI secara penuh pada aktivitas dan pemanfaatannya untuk mengelola pendidikan masih sangat terbatas.

Apabila sudah pun, belum dimanfaatkan secara meluas. Penggunaan internet dan medianya lebih banyak digunakan untuk keperluan komunikasi ketimbang sebagai sarana pendidikan interaktif.

Beberapa lembaga terutama perguruan tinggi sudah cukup intensif dalam menggunakan internet sebagai media belajar – mengajar. Slide presentasi, tugas perkuliahan, paper, latihan dan project dari dosen diunggah di situs web, dan mahasiswa diarahkan untuk mengirimkan tugas, paper, project maupun latihan sampai dengan skripsi melalui web site tersebut maupun melalui surat elektronik.

Kita semua tentu masih ingat dengan program pendidikan melalui media televisi satu dekade silam. Ditujukan pada pendidikan luar sekolah (SMP Terbuka), inisiatif dari Televisi Pendidikan Indonesia ini, selain berisi tentang materi pelajaran sesuai dengan kurikulum saat itu, juga menayangkan berbagai program pengetahuan umum, pertanian dan peternakan.

Memang peran TP dan saat ini TI di dunia pendidikan di Indonesia telah berjalan cukup lama. Harus diakui bahwa radio dan televisi telah memegang peranan penting dalam meningkatkan penyebaran kesempatan pendidikan, dalam hal ini untuk aktivitas pembelajaran mandiri dan juga jarak jauh.

Satu harapan pasti adalah bahwa adanya goodwill di pemerintahan mendatang khususnya kementerian pendidikan serta komunikasi dan informasi agar lebih memperhatikan sektor ini, sementara di sisi lain terus menggulirkan ide–ide, wacana, gagasan, feedback melalui asosiasi profesi baik IPTPI maupun ISTPI.

Sementara itu mereka yang berprofesi sebagai pendidik dan pengajar, jika memang dimungkinkan, terus mengasah kemampuannya dalam memahami, mengimplementasi, dan mendayagunakan TI dan TP ke dalam kurikulum dan aktivitas belajar mengajar dimana institusi juga meningkatkan utilisasi TI dalam pengelolaan manajemen pendidikan.

Semua demi efisiensi dan efektivitas serta meningkatnya kualitas belajar yang pada akhirnya membawa peningkatan atas kualitas murid dan mahasiswa sebagai manusia seutuhnya.

P.S: Sebagaimana dimuat di situs DetikINET.

MOOC: Inikah Jawaban atas Pendidikan 3.0?

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/11/398/laptopkeyboard250.jpg
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta – “Professor Kevin Werbach taught a Massive Open Online Course (MOOC) about ‘Gamification’ to more than 140,000 people from 150 countries, reaching more students in eight months than all of his colleagues combined throughout the 130 year history the Wharton School of the University of Pennsylvania“.Saya membaca penggalan paragraf di atas suatu sore setelah menemani Profesor Emeritus Richard Cornell, akrab disapa Dick, dalam kunjungan pertamanya di Indonesia sebagai negara ke-81 yang pernah disinggahinya selama 55 tahun dalam rangka menyebarkan semangat (teknologi) pendidikan di berbagai penjuru dunia.Genap berusia 80 tahun di awal Juli nanti, kedatangannya ke Jakarta dalam rangka melakukan koordinasi dengan Ikatan Profesi Tenaga Pendidik Indonesia, seringkali disingkat IPTPI, sebagai affiliate chapter dari Association of Educational and Communication Technology (AECT).Berlatar belakang research di bidang Instructional Design dan kemudian Educational Technology, dalam kapasitasnya sebagai AECT Conveys, mencoba membina hubungan lebih erat dengan local chapter di Indonesia dengan mendorong pemanfaatan dan publikasi situs web organisasi serta merangkul lebih banyak anggota dengan membuat membership fee lebih terjangkau.

Lantas, apa hubungan kedua paragraf di atas? Lima hari di Jakarta bersama mantan Presiden AECT ini, penulis banyak membicarakan dan membahas tren teknologi pendidikan di mancanegara, terutama di Amerika Serikat, Asia Barat dan Asia Timur pada khususnya.

MOOC termasuk salah satu dari topik pembicaraan yang paling banyak menyita perhatian dan waktu diskusi dengan beliau — sampai saat ini masih aktif mengajar di dua universitas swasta di negara Paman Sam. Salah satunya melalui e-learning classroom.

Betul sekali berita mengenai sesi Prof. Kevin membuat saya terhenyak. Menjabat sebagai Obama Administration Presidential Transition Team dan penasihat ahli di Federal
Communications Commission (FCC) and Departemen Perdagangan — pionir gamification ini — Werbach terpilih sebagai Wharton’s first Iron Prof atas presentasinya ‘All I Really Needed to Know I Learned in World of Warcraft‘.

How cool is that? Apalagi jika membaca kutipan selanjutnya “His gamification course had some of the highest rates of engagement and completion of any offering on the Coursera MOOC platform, generating more than 2 million video views and nearly 20,000 forum posts“.

Dan ini adalah sesi pertamanya di MOOC (dengan menggunakan platform Coursera)! Geezzz….

Penulis sendiri mulai mengeksplorasi MOOC pertengahan tahun lalu saat berbincang santai dengan salah satu rekan bernama Jimmy C. Tseng.

Mantan Asisten Profesor bidang Information Security di Rotterdam School of Management, Erasmus University ini menyarankan pemanfaatan online course platform sebagai alternatif lain maupun big leap terhadap aktivitas sebagai dosen tamu yang aktif saya lakukan di berbagai Universitas dalam kurun waktu satu tahun terakhir, baik secara face to face maupun online.

Berkaca ke beberapa dasawarsa silam, banyak cara, metode dan kanal telah digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Mulai dari menggunakan layanan pos untuk mengirimkan
materi belajar, radio, video sampai dengan internet.

Di dunia maya sendiri, metodologi telah menggunakan banyak media: newsgroup, gopher (masih ingat keduanya?), e-mail, forum, blog, mailing list, streaming, dan lainnya.

Masih tersemat di benak kita, langkah terobosan Advanced Learning Interactive Systems Online (ALISON) meluncurkan kursus dan pembelajaran gratis secara online untuk pendidikan dasar dan skill tertentu bagi dunia industri dengan cara sedikit nyeleneh enam tahun lalu, yaitu penempatan iklan dari para perusahaan sebagai sumber revenue utama.

Sebagai platform pendidikan, tentunya mereka membutuhkan sumber dana agar bisa beroperasi dan sustainable. Bahkan saat ini, buku sudah (tidak lagi) bebas dari iklan.
Do read free e-book from BookBoon! Agar bisa diperoleh, lebih tepatnya diunduh secara gratis demi menarik minat dan menggaet pembaca lebih banyak, serta memberikan kompensasi kepada penulis dan pengarang, kita akan melihat sisipan iklan di antara bab di buku yang diterbitkan oleh penerbit asal Denmark ini.

Tidak bisa disangkal, tahun lalu menjadi tahunnya MOOC karena banyaknya pemberitaan, implementasi dan gerakan di universitas maupun institusi pendidikan berbagai negara mengadopsinya.

Buzz-nya sangat terasa saat Stanford meluncurkan tiga mata kuliah dengan cara ini dengan dihadiri oleh rata – rata sebanyak 100.000 peserta.

Selain kedua pihak yang disebutkan di atas, ada perusahaan yang menyediakan hal serupa: Coursera, Udacity dan edX. Ketiga start-up ini sudah menjalin kerja sama dengan universitas top di Amerika di antara lain adalah University of Pennsylvania, Princeton, Stanford dan Michigan. Universitas terkemuka lainnya (MIT, Harvard, Berkeley, Texas System, Georgetown) membentuk blok sendiri dengan edX.

Masih di tahun yang sama, University of New South Wales meluncurkan MOOC pertama di Australia, diikuti oleh diumumkannya Futurelearn oleh universitas terbuka di Inggris yaitu Open University, Open2Study di negeri Kangguru tersebut serta Iversity di Jerman.

Then how are they doing these days? Mengutip situs Udacity, Januari lalu bekerja sama dengan San Jose State University, mereka sudah mulai menawarkan mata kuliah yang diakui dan diakreditasi sebagai credit hours layaknya kuliah dengan metode konvensional pada umumnya.

Terlebih lagi, gelar Master dalam bidang Ilmu Komputer dapat diperoleh dari Georgia Institute of Technology dengan mengikut perkuliahan secara penuh sekian SKS dengan biaya terjangkau – sepertiga dari biaya bagi mahasiswa mereka saat ini dan seperenam dari biaya bagi mahasiswa dari negara bagian atau negara lain.

Mungkin iya, namun yang jelas hal ini merupakan important milestone MOOC. Mengambil contoh kasus universitas Georgia, ada perbedaan antara program yang mereka tawarkan di platform Udacity dengan program sebelumnya maupun program di platform MOOC lainnya.

Yaitu dukungan dan layanan akademis tambahan terkait dengan e-learning sebagai metode pembelajarannya. Sementara faktor lainnya, terlebih menyangkut kualitas dan mutu perkuliahan dan kelulusan, tetap sama.

Bukankah berita ini menggembirakan para siswa terutama di negara berkembang? Tanpa mengecilkan peran ‘real-world interaction‘, mengingat kerinduan akan pendidikan berkualitas di beberapa negara tertentu sulit diwujudkan karena tingginya faktor biaya kuliah (di pendidikan tinggi) dibandingkan dengan pendapatan per kapita baik lokal maupun nasional?

Maka dari itu, mari simak terus perkembangan dari tren platform e-learning terbaru ini!

Sebagaimana dimuat di situs DetikINET.