Wildlife Playground at the Eastern Java

Savana #2Hope you’re able to spot two of them in this picture.

You could meet one of Indonesia endangered species Javanese bull (Bos Javanicus) inside this 80-hectares Savannah located around 2km from Rawa Bendo gate. More than 30 wild bulls live there ever since Alas Purwo National Park was opened in 1992. Besides them, do expect to witness deer, peacock, and coyote around.

They usually show up in the morning between 6 AM to 9 AM and in the evening from 3.30PM until 5 PM local time in the search for plants.

Savana #8
Another view of the savannah from the tower taken at 12.30 PM.

Be mindful to bring your camera along with telephoto lens if you wanna catch up those faunas as the distance between the two-floored monitoring tower is quite a shot. One of telecommunication operators works here is Indosat. Never mind XL.

Revitalisasi Teknologi Pendidikan Indonesia

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/08/27/398/laptopanakselokal285.jpg

Ilustrasi (detikcom)

Jakarta – Tergelitik untuk menyisir kembali perkembangan terakhir teknologi pendidikan (educational technology atau kerap kali dikenal sebagai technology in education dalam bahasa Inggris) di Indonesia dalam hubungannya dengan konsumerisasi TI adalah alasan mengapa tulisan ini dihadirkan kehadapan para pembaca.Pada dasarnya teknologi pendidikan (selanjutnya disingkat TP) adalah kajian teori dan praktik dimana sumber daya manusia, gagasan, peralatan, prosedur dan organisasi bersinergi dalam menciptakan masalah pembelajaran.

Selanjutnya pada akhirnya, kegiatan belajar menjadi efektif dan efisien, sehingga tujuan belajar tidak hanya dapat tercapai, namun kualitas belajar juga diharapkan meningkat.

Berada di sektor pendidikan dan pelatihan selama lebih dari satu dasawarsa, dengan fokus pada pendayagunaan dan pemanfaatan Telematika dalam aktivitas pembelajaran di pendidikan tingkat dasar dan menengah serta tinggi, ada beberapa kendala dan tantangan membuat kondisinya menjadi relatif stagnan.

Infrastruktur

Tidak bisa dipungkiri hadirnya Jardiknas belum cukup membantu peningkatan peran TP dalam dunia pendidikan di Nusantara.

Terdiri dari 4 zona jaringan (kantor Dinas/Institusi, Perguruan Tinggi, Sekolah, Guru dan Siswa) dikenal lewat nama DiknasNet, INHERENT, SchoolNet, TeacherNet dan StudentNet), Wide Area Network pendidikan dengan skala nasional yang dibiayai lewat anggaran Kementerian Pendidikan Nasional kerap dipertanyakan oleh banyak kalangan.

Mulai dari manfaat untuk bangsa, siswa, pengajar, sampai dengan keraguan atas berhasil atau tidaknya serta indikator lainnya. Konkritnya, apakah IT literacy level siswa dan guru meningkat? Apakah mereka sudah mampu untuk berinteraksi lewat mailing list, forum, atau jenis media sosial lainnya.

Termasuk juga dari sisi kuantitasnya seperti berapa banyak presentase dari mereka yang mampu menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran?

Bagi siswa dan mahasiswa sebagai pembelajar, mereka dapat menikmati layanan pembelajaran yang dilakukan secara online, yaitu dengan memanfaatkan internet dan juga sekaligus mengikuti ujian.

Kondisi lain, sehubungan dengan infrastruktur, tidak bisa disangkal bahwa tidak meratanya kualitas koneksi internet antara major dan minor cities berkaitan dengan jumlah pengguna di suatu lokasi tertentu tidak banyak membantu perkembangan pemanfaatan TP di sektor ini.

Sumber Daya Manusia

Walaupun sulit mencari data mengenai jumlah pengajar yang memahami teknologi dan terlebih lagi, mengintegrasikan serta memanfaatkannya untuk pembelajaran, yang jelas hampir dapat dipastikan tingkat pertumbuhannya tidak setinggi tingkat pertumbuhan pengguna internet yang mencapai 2-5 persen per tahun.

Telah dicapainya angka 55 juta pengguna internet tidak memberikan gambaran pasti dan tidak secara otomatis berbanding lurus dengan jumlah guru dan dosen yang melek TI.

Apabila ditelisik lebih detil, tentunya akan sangat sedikit jumlah tenaga pengajar yang memahami teknologi pembelajaran, serta mendayagunakannya sebagai media pembelajaran.

Ditambah lagi masalah mendasar seperti kompensasi para pendidik dimana sebagian besar masih dalam tingkat minimum, membuat mereka lebih sibuk dengan aktivitas mengajar di institusi pendidikan lainnya dibandingkan dengan memahami TI dan TP secara lebih mendalam.

Dari segi jumlah guru dan dosen, berdasarkan estimasi atas data terakhir DikNas tahun lalu, jumlahnya mencapai kurang lebih 3 juta dan 300 ribu, jumlahnya sebenarnya lebih dari cukup.

Mengutip pernyataan Anies Badewan, penggagas Indonesia Mengajar, persoalan terletak pada penyebarannya. Sebanyak 66% di daerah terpencil kekurangan sementara sekolah di lokasi lain berlebihan jumlahnya. Rasio antara jumlah guru dengan jumlah murid saat ini adalah 1:18 sementara dosen dengan mahasiswa 1:15.

Sejauh yang diamati, dari beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, tingkat keahlian para pengajarnya atas skillset TI maupun TP dan juga tenaga pendidik bidang TI sendiri masih tergolong rendah.

Tingkatan pengguna di power-user jarang dijumpai. Mayoritas masih di user-level. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena rendahnya intensitas pelatihan, workshop, dan event sejenisnya baik dari sektor swasta maupun pemerintah dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya.

Kelangkaan sumber daya instructional designer sedikit banyak turut berkontribusi atas statisnya kondisi sebagaimana dijabarkan pada paragraf sebelumnya.

Lulusan Teknologi Pendidikan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan praktis atas educational media, namun lebih diutamakan lagi mempunyai kemampuan mendesain media pembelajaran yang ideal.

Tingkat Pemanfaatan

Selain rendahnya integrasi TI dalam aktivitas pembelajaran (Computer-Based Training, Web-Based Training, e-Learning dan lain sebagainya), pemanfaatannya dalam pengelolaan manajemen pendidikan juga masih sangat minim terutama dari sisi kuantitas.

Utilisasi Learning Management Systems (LMS) lebih banyak ditemui di lembaga pendidikan swasta ketimbang negeri namun tetap saja jumlahnya tidaklah signifikan.

Akar masalahnya adalah kurangnya komitmen dari jajaran pimpinan untuk menerapkan TI dan TP di dalam institusinya mulai dari tataran infrastruktur, perangkat, tenaga pengajar sampai dengan pendidik di jajaran struktural.

Kurikulum

Rendahnya penerapan TI dalam pembelajaran dan berbagai kegiatan pendidikan tercermin dari kurikulum terutama Satuan Acara Perkuliahan dan Kalendar Akademik.

Diakomodasinya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dimulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di tahun 2004 jelas merupakan langkah yang tidak dapat dihindarkan.

Peran TI pada kurikulum terletak pada desain sistem pembelajaran dan pelaksanaan pembelajarannya dimana tujuan dari desain adalah menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.

Metodologi

Bagi institusi yang sudah memanfaatkannya elemen Instructional Design sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam setiap pelajaran dalam terpenuhi.

Secara umum, bisa disimpulkan bahwa integrasi TI secara penuh pada aktivitas dan pemanfaatannya untuk mengelola pendidikan masih sangat terbatas.

Apabila sudah pun, belum dimanfaatkan secara meluas. Penggunaan internet dan medianya lebih banyak digunakan untuk keperluan komunikasi ketimbang sebagai sarana pendidikan interaktif.

Beberapa lembaga terutama perguruan tinggi sudah cukup intensif dalam menggunakan internet sebagai media belajar – mengajar. Slide presentasi, tugas perkuliahan, paper, latihan dan project dari dosen diunggah di situs web, dan mahasiswa diarahkan untuk mengirimkan tugas, paper, project maupun latihan sampai dengan skripsi melalui web site tersebut maupun melalui surat elektronik.

Kita semua tentu masih ingat dengan program pendidikan melalui media televisi satu dekade silam. Ditujukan pada pendidikan luar sekolah (SMP Terbuka), inisiatif dari Televisi Pendidikan Indonesia ini, selain berisi tentang materi pelajaran sesuai dengan kurikulum saat itu, juga menayangkan berbagai program pengetahuan umum, pertanian dan peternakan.

Memang peran TP dan saat ini TI di dunia pendidikan di Indonesia telah berjalan cukup lama. Harus diakui bahwa radio dan televisi telah memegang peranan penting dalam meningkatkan penyebaran kesempatan pendidikan, dalam hal ini untuk aktivitas pembelajaran mandiri dan juga jarak jauh.

Satu harapan pasti adalah bahwa adanya goodwill di pemerintahan mendatang khususnya kementerian pendidikan serta komunikasi dan informasi agar lebih memperhatikan sektor ini, sementara di sisi lain terus menggulirkan ide–ide, wacana, gagasan, feedback melalui asosiasi profesi baik IPTPI maupun ISTPI.

Sementara itu mereka yang berprofesi sebagai pendidik dan pengajar, jika memang dimungkinkan, terus mengasah kemampuannya dalam memahami, mengimplementasi, dan mendayagunakan TI dan TP ke dalam kurikulum dan aktivitas belajar mengajar dimana institusi juga meningkatkan utilisasi TI dalam pengelolaan manajemen pendidikan.

Semua demi efisiensi dan efektivitas serta meningkatnya kualitas belajar yang pada akhirnya membawa peningkatan atas kualitas murid dan mahasiswa sebagai manusia seutuhnya.

P.S: Sebagaimana dimuat di situs DetikINET.

BYOD = Bring Your Own Danger?

Jakarta – Dalam artikel di media yang sama beberapa waktu lalu telah dibahas mengenai tren Bring Your Own Device (BYOD) seiring dengan meningkatnya konsumerisasi Teknologi Informasi (TI), bertambahnya jumlah perangkat bergerak per pengguna serta intensifnya penggunaan perangkat tersebut untuk kebutuhan yang makin individualis.

Menelisik sisi lain konsepsi ini, salah satu faktor adalah biaya implementasi, dimana apabila dikalkulasi lebih jauh, akan lebih tinggi ketimbang manfaat diperoleh. Perusahaan akan berfokus pada akses data ketimbang memperhatikan perangkat, infrastruktur tersedia termasuk Public Key Infrastructure (PKI).

Agar tepat sasaran dan berhasil, pengembangan kebijakan perlu mempertimbangkan perspektif fungsionalitas, dibandingkan perspektif Teknoogi Informasi, sehingga saat kita menentukan workflow yang akan digunakan, kita dapat mulai menerapkan kebijakan sesegera mungkin.

Survei terbaru perusahaan riset Gartner ada sekitar 1,2 miliar ponsel cerdas digunakan di seluruh dunia saat ini. Angka ini mendekati penggunaan komputer personal (desktop, laptop, netbook dan tablet PC). Sementara itu satu dari tiga perangkat terjual adalah ponsel cerdas.

Dua tahun lagi diperkirakan satu pekerja akan memiliki lebih dari 3 perangkat yang terhubung, meningkat cukup signifikan dari 2.8 perangkat di tahun ini. Di sisi lain, inisiatif mobilitas akan mengambil porsi 20 persen di tahun tersebut dibandingkan dengan 17 persen di tahun ini dimana peningkatan anggaran kemungkinan besar dialokasikan untuk kebijakan BYOD.

Berpindah ke Total Cost of Ownership (TCO), konsepsi BYOD mengandung dua komponen biaya (cost) yaitu eksternal (subscription fee, perangkat keras dan lunaknya) dan internal (biaya pemeliharaan termasuk kehilangan dan kerusakan).

Eksternal lebih mudah dikalkulasi karena komponen ini sudah sangatlah jelas, sementara biaya internal — menyangkut piranti lunak pendukung: pengelolaan perangkat bergerak, keamanan, jaringan nirkabel, access control systemhelp desk, administrasi dan pelatihan.

Tentunya total biaya tergantung di daerah mana konsepsi ini dijalankan dengan tren menurun seiring dengan biaya perangkat keras dan lunak yang relative akan semakin terjangkau.

Di sisi lain, segi positif implementasi BYOD adalah kaum profesional akan bekerja lebih lama. Riset teranyar Good Technology memperkirakan mereka bekerja di kantor tujuh jam lebih lama dalam seminggu dibandingkan biasanya. Masih diperlukan data tambahan untuk mengetahui apakah penggunaan perangkat bergerak pribadi ini meningkatkan produktivitas para pekerja.

Perdebatan makin meluas mengenai kepemilikan data di perangkat bergerak yang digunakan. Apabila ada kasus khusus dan perangkat perlu diinvestigasi lebih jauh, maka pihak perusahaan (merasa) berhak untuk memeriksa email, kalender, daftar kontak, situs yang pernah dikunjungi, terkait dengan aktivitas pekerjaan dan secara tidak langsung, yang bersifat pribadi.

Perhatian lain adalah saat adanya masalah pada devais yang digunakan. Apabila saat berkorespondensi via email terkait aktivitas pekerjaan ditemukan virus, pihak pemilik perangkat atau perusahaankah yang akan bertanggung jawab untuk memperbaiki masalah tersebut?

Infografik terbaru Trend Micro menyatakan 74 persen responden ingin agar perusahaan menjalankan BYOD baik secara penuh maupun terbatas sementara 47 persen perusahaan menyatakan mereka mengalami data breach atas penggunaan perangkat bergerak pribadi para pegawainya.

Masih menurut informasi yang sama, 73 persen CEO berpendapat bahwa BYOD merupakan hak karyawan namun hanya 44 persen eksekutif TI setuju terhadap hal ini. Grup/Divisi paling sibuk tentunya adalah keamanan TI (37 persen), disusul Help Desk (24 persen) dan Mobile Management dengan 14 persen.

60 persen dari eksekutif TI merasa mereka merupakan pihak paling bertanggung jawab atas implementasi konsepsi ini, sementara 90 persen eksekutif merasa pertanggungjawaban ada di pundak mereka.

Riset online Forrester terhadap 202 pemilik program owner di berbagai perusahaan di Amerika, Inggris, Prancis dan Jerman menunjukkan 60 persen implementasi dilakukan pada ponsel cerdas, 47 persen di tablet dan laptop dengan melibatkan partisipasi pihak eksternal yaitu konsultan dan pihak ketiga (vendor).


Ilustrasi (gigaom)

Tentunya, program ini tidak lepas dari ruang lingkup saat audit TI dilakukan. Konsekuensinya adalah bahwa pengguna harus menyetujui penggunaan piranti lunak dan layanan mobil management baik dengan spesifikasi platform yang sudah ditentukan oleh perusahaan maupun oleh para penggunanya sendiri.

Faktor pengikatnya adalah dokumen berisi perjanjian mengenai apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak. Termasuk persyaratan dari pihak perusahaan. Jailbreak jelas dilarang.

Dalam perjanjian bisa saja dicantumkan perusahaan berhak mengawasi device secara acak dan apabila terjadi kehilangan perangkat maka mereka diperbolehkan melakukan penghapusan data perusahaan padadevice pengguna.

Karena secara kepemilikan, perangkat merupakan properti karyawan, maka tentunya apabila terjadi gangguan fungsi dan membutuhkan layanan maupun dukungan teknis dan non-teknis, prioritas bantuan akan diberikan terlebih dahulu kepada perangkat milik perusahaan.

Faktor utama yang mendasari dijalankannya program ini adalah meningkatnya fleksibilitas cara bekerja dan produktivitas pengguna, dengan penghematan biaya perusahaan atas penggunaan perangkat menjadi faktor pendukung.

Sebagaimana indikator lain dalam perusahaan, metrik tersebut akan dikaji secara berkala dengan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dengan effort yang sudah dan harus dijalankan terutama dari sisi kerahasiaan dan keamanan data.

Konsekuensi logisnya, apabila benefit tidak sesuai dengan harapan, dalam jangka waktu tertentu, maka keberlangsungan program ini kemungkinan besar akan dipertimbangkan kembali.

Sebagaimana diterbitkan oleh DetikINET: http://inet.detik.com/read/2012/09/13/140211/2017352/398/byod–bring-your-own-danger